Kewalahan Hadapi Tekanan Saudara Istri

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Saya Sufyan (52). Sejak pensiun, saya berharap bisa hidup lebih tenang, menikmati waktu bersama keluarga, dan mempersiapkan ibadah Haji yang sudah lama saya impikan. Namun, kenyataannya saya justru menghadapi kesulitan finansial. 

Tabungan haji habis, uang pensiun terkuras, dan simpanan saya tinggal sedikit. Istri saya terus meminta saya membantu saudara-saudaranya, seperti melunasi hutang mereka atau bahkan menebus salah satu saudara yang bermasalah dengan hukum.  

Saya merasa kewalahan dan bingung bagaimana harus bersikap? 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sufyan  | Kepulauan Riau

Bapak Sufyan yang dirahmati Allah apa yang Bapak hadapi ini bukanlah hal yang mudah. Namun langkah Bapak untuk meminta nasihat adalah keputusan yang bijak, sebagai upaya menjaga keharmonisan rumah tangga.

Saya mencoba memahami adanya tekanan yang dialami yang Bapak rasakan, mencakup dua hal utama: (1) Tekanan dari tuntutan keuangan keluarga besar istri, dan (2) Gangguan hubungan dengan istri dan anak-anak akibat hal tersebut.

Pertama, penting mengenali kondisi seperti ini tidak boleh dipikul sendiri. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa masalah yang dibicarakan dan dibagi dengan cara yang bijak dapat memberikan solusi dan kelegaan. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.”  (HR. Muslim).

Bapak perlu berbicara jujur dengan istri untuk mencari solusi bersama.

Kedua, tunjukkan sikap tegas dengan bijaksana. Dalam Islam, kita diperintahkan membantu, tetapi bantuan harus diberikan sesuai kemampuan dan tanpa membebani diri sendiri.  

Bersikap tegas bukan berarti tidak peduli, tetapi ini bentuk tanggung jawab agar keuangan tetap stabil dan kebutuhan pokok terpenuhi. 

Ketiga, perkuat hubungan suami istri,  karena memperbaiki hubungan dengan istri adalah fondasi keharmonisan keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda; “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Cobalah meluangkan waktu berbicara dari hati ke hati dengan istri, tanpa membawa emosi. Ungkapkan perasaan Bapak dengan lembut dan beri pengertian bahwa tujuan Bapak adalah menjaga kestabilan keluarga. Perkuat lagi sikap sabar, karena kadang pemahaman istri memerlukan waktu.

Keempat, coba kelola rasa kecemasan. Perasaan cemas dan overthinking adalah wajar dalam situasi seperti ini. Namun, jangan biarkan ini menguasai diri Bapak. Allah SWT berfirman yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Luangkan waktu untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan memanjatkan doa kepada Allah. Serahkan segala urusan kepada-Nya, dan yakinlah bahwa Allah akan memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa.  Amalkan doa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung  kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan manusia.”

Kelima, libatkan istri dalam merencanakan keuangan dan prioritaskan kebutuhan keluarga inti terlebih dahulu. Jelaskan ada dampak keuangan,  jika tidak ada pembatasan.

Situasi yang Bapak hadapi memang tidak mudah. Dengan komunikasi yang baik, doa, dan ikhtiar, insya Allah Bapak dapat menemukan jalan keluar terbaik.

Semoga Allah SWT memudahkan segala urusan Bapak. Aamiin. Wallahu a’lam.*