Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saya Darin (31 tahun), menikah dan belum punya momongan. Sudah dua tahun ini saya merantau di luar negeri untuk membantu ekonomi keluarga. Saya dan suami, hampir setiap hari melakukan komunikas melalui media WhatsApp. Pada akhirnya saya punya masalah dengan suami disebabkan jarak memisahkan.
Saya tidak tahu ujung pangkal masalahnya apa. Bahkan semakin ke sini, semakin jarang berkomunikasi. Setiap chat tak dibalas, tidak ada panggilan telepon dan tidak ada kabar apapun. Saya punya feeling kalau suami sudah ada wanita lain. Setelah saya selidiki ternyata benar. Sekarang saya dalam fase pasrah. Ustadz, apakah rumah tangga kami masih bisa diperbaiki, sementara suami sepertinya sudah tidak ada perhatian dan perasaan terhadap saya? Terimakasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,
Darin | Bumiayu
Wa’alaikumsalam Warahmatullahi wabarakatuh. Ibu Darin yang dirahmati Allah. Tidak mudah menghadapi perubahan sikap pasangan, terlebih ketika ada kemungkinan orang ketiga yang turut mempengaruhi kondisi rumah tangga, sementara ada jarak dan waktu memisahkan Anda dan suami.
Saya memahami bahwa saat ini Anda berada dalam fase pasrah dan penuh kebingungan tentang masa depan hubungan Anda berdua.
Ibu Darin, dalam Islam, pernikahan adalah ikatan suci yang dibangun di atas kasih sayang, ketenangan, dan rahmat. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).
Nah, jika suami mulai menjauh, sulit diajak berkomunikasi, dan tidak menunjukkan keinginan untuk memperbaiki hubungan, maka ada dua hal yang perlu Anda pertimbangkan: “Apakah masih ada harapan untuk memperbaiki rumah tangga”, ataukah “lebih baik mencari solusi lain demi kebaikan bersama?” Coba renungkan dan lakukan langkah-langkah berikut:
Pertama, berusaha dan ikhtiar untuk memperbaiki rumah tangga. Jika Anda masih berharap rumah tangga bisa diperbaiki, maka langkah awal yang dapat dilakukan adalah mencoba membangun kembali komunikasi dengan suami secara tenang dan terbuka.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan kecewa orang yang beristikharah (memohon petunjuk dari Allah), dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah.” (HR. Thabrani).
Cobalah untuk berbicara dengan suami, tanyakan dengan hati terbuka apakah ia masih memiliki niat untuk mempertahankan pernikahan.
Jika masih ada harapan, usaha perbaikan bisa dilakukan dengan kompromi dan musyawarah untuk bermufakat dengan komunikasi yang baik, saling introspeksi, dan berdo’a memohon petunjuk dan jalan keluar dari Allah SWT.
Kedua, bersiap dan bersedia menghadapi ketidakpastian dan kecewa.
Jika suami sudah tidak menunjukkan keinginan untuk mempertahankan hubungan dan malah semakin menjauh, maka Anda perlu memikirkan keberlanjutan rumah tangga dengan realistis.
Dalam Islam, perceraian memang diperbolehkan sebagai solusi terakhir jika pernikahan tidak lagi membawa ketenangan. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Maka (hendaklah) mempertahankan mereka dengan cara yang baik atau melepaskan mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229).
Jika perceraian menjadi solusi terbaik, maka lakukan dengan cara yang baik tanpa saling menyakiti, tetap menjaga adab sebagai pasangan yang pernah berbagi kehidupan.
Ketiga, menjaga diri dari kesedihan yang berlarut-larut. Jika rumah tangga tidak bisa dipertahankan, jangan biarkan kesedihan terus menguasai diri Anda.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya: “Tidak boleh ada kemudaratan dan tidak boleh saling membahayakan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).
Keempat, dalam situasi ini, istighfar dan do’a adalah senjata utama. Mohonlah kepada Allah SWT petunjuk dan kekuatan untuk mengambil keputusan yang terbaik.
Jika masih ada harapan untuk memperbaiki hubungan, maka lakukan dengan sabar dan penuh ikhtiar. Namun, jika suami tidak lagi memiliki perasaan dan tidak ingin memperbaiki rumah tangga, maka Anda perlu mempertimbangkan masa depan dengan lebih bijak.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Teriring do’a dan harapan, “Ya Allah, berikanlah bagi saudari kami jalan keluar dari setiap kesulitan, bukakanlah pintu dari setiap kesempitan, dan anugerahkanlah kebahagiaan serta keridhaan dalam kehidupan dunia dan akhirat.” Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam.*