Kekuatan di Balik Proses

Pengalaman dan proses yang alami  akan melahirkan daya tahan kuat menghadapi segala dinamika 

By: Khairul Hibri

Kalau Allah menghendaki, begitu mudah baginya untuk menjadikan langit dan bumi dalam sekejap, tanpa ada proses nan berhari-hari. 

Cukup firmankan kalimat ‘kun (jadilah), maka seketika terwujud apa yang dikehendaki. 

Namun, nyatanya, Allah menerangkan kepada manusia mealui firman-Nya dalam Al-Quran, bahwa Allah menentukan proses dalam penciptaan langit dan bumi tidaklah sebentar. Perlu waktu enam hari. 

Tentu saja, tidak ada yang Allah Swt tetapkan bagi orang-orang beriman, kecuali terdapat pelajaran yang bisa dipetik. Semua untuk dijadikan pelajaran atau pegangan dalam menjalani kehidupan. 

Sunnatullah

Tabiat manusia, selalu ingin segera dalam menggapai sesuatu. Kalau bisa didapat dalam sebulan, mengapa harus mengikuti proses setahun. 

Kalau bisa seminggu, mengapa harus menunggu sebulan. Bahkan, kalau bisa hitungan jam, tanpa harus berhari-hari. 

Mindset (pola pikir) ini, menuntut adanya akal-akalan dalam menggapai tujuan itu. 

Hasrat hati ingin mencapai sesuatu itu sangat tinggi. Tapi di lain sisi, ada ‘tembok’ tebal menjadi penghalang untuk memuluskan langkah tersebut. 

Akan lebih celaka, bila keinginan ‘memotong kompas’ proses itu dimiliki oleh mereka yang memiliki kuasa. Alamat, berpotensi melakukan kecurangan secara sistemik yang bisa merugikan banyak hal. 

Bila itu lembaga/perusahaan, maka akan mengorbankan karyawan. Bila itu negara, akan merugikan masyarakat luas. 

Sepintas, memang akan menguntungkan pribadi atas langkah yang ditempuh. Tapi, sejatinya akan merugikan pelaku sendiri. 

Contoh sederhana, para koruptor. Mereka ingin mendapatkan uang banyak secara instan, akhirnya melakukan tindakan korupsi yang endingnya, karirnya nyungsep dan berujung dipenjara. 

Padahal, sejatinya ada banyak hikmah bagi seseorang yang ingin mencapai target sesuatu dengan mengikuti proses yang ada. 

Pertama, kaya pengalaman. Pengalaman bak mutiara bagi seorang individu pembelajar. Karena dari pengalama itulah ia tahu tentang langkah-langkah yang akan membawa kepada keberuntungan, dan ‘lubang-lubang’  membahayakan.  

Justru dengan pengalaman akan menggiring seseorang kepada keuntungan berikutnya, yakni daya tahan kuat menghadapi segala dinamika. 

Sudah maklum adanya, dalam meniti karir akan banyak liku-liku yang akan dihadapi. Ujungnya akan menjadi imunitas diri, tidak cengeng saat terbentur berbagai persoalan. 

Daya tahan inilah yang membuatnya selalu optimis menghadapi masa depan, meski masa kini dalam kesulitan. Ia tidak risau, tidak panik.  

Hikmah yang terakhir, bahwa mengikuti proses itu akan menumbuhkan rasa syukur atas pencapaian yang diperoleh. Ia merasakan betul suka-duka dalam perjalanan. 

Karena itu, ketika telah tercapai, rasa syukurlah yang muncul. Setali tiga uang, hal ini akan menjadi tameng dirinya terjerumus dalam ‘pesta’ keberhasilan, yang acap kali justru mendorong seseorang terjatuh pada titik awal. 

Rasa syukur ini menumbuhkan rasa empati, sehingga tidak mudah sombong. Yang ada justru ingin mengangkat derajat siapa saja di ‘bawah’nya, karena ia pernah merasakan hal yang sama. 

Pada posisi inilah, ia akan semakin dicintai, sehingga karir dan kesuksesannya terus menanjak. 

Inilah di antara keuntungan yang diperoleh, apabila kita menapaki proses dengan baik. 

Pesannya, jangan tergiur iming-iming yang cenderung instan dalam mendapatkan sesuatu. Nikmati proses, insya Allah kesuksesan akan tergapai, karena hasil tidak pernah mengkhianati proses.*