Sebelum militer modern seperti sekarang ini, Korps Elit Janissari adalah tentara paling maju di kawasan Eropa, salah satu keberhasilannya adalah membobol tembok kota Konstantinopel tahun 1453
Tahun 1453 Kota Konstantinopel dikepung. Dalam upaya mempertahankan kekaisaran Romawi dan Kota Konstantinopel, tentara bayaran Italia, Giustiniani, mempertahankan kota dan tembok-temboknya yang tinggi. Di luar, pasukan elit Janissari telah mengepungnya.
***
Kesultanan Turki Utsmani adalah salah satu imperium terluas di dunia. Pada masa kejayaan, kekuasaannya meliputi sepertiga dunia; mulai dari Asia Barat, sebagian besar Eropa Tenggara, dan Afrika Utara.
Kejayaan imperium Turki Utsmani tak lepas dari peran pasukan Korp Janissari, pasukan elit paling kuat di dunia kala itu.
Janissari atau Yeniçeri (bahasa Turki, artinya pasukan baru), adalah sebuah pasukan infanteri (angkatan darat) yang dibentuk Sultan Murad I dari Kekhalifahan Bani Seljuk abad 14.
Calon pasukan Janissari dikumpulkan melalui sistem devşirme. Calon-calon pasukan direkrut 20% anak muda dari wilayah penaklukkan, khususnya dari Balkan Kristen.
Sebagai imbalan, anggota Janissari diharapkan bisa memeluk Islam, khitan, dilatih jadi militer dan berkomitmen penuh kepada sultan.
Anggota tentara terbaik biasanya diberi penghargaan dan promosi. Terkadang mendapat posisi politik di kekaisaran.
Saat banyak keluarga Kristen berusaha agar putra mereka tidak ikut Kekhalifahan Utsmani, sebagian keluarga Kristen miskin justru ingin agar anak-anak mereka bergabung pasukan Utsmani.
Setidaknya, para pemuda yang terpilih jadi Janissari, memiliki kesempatan hidup bebas dari kemiskinan dan kerja paksa. Sejumlah keistimewaan lain adalah, status khusus dalam masyarakat Utsmani, gaji layak, hadiah dari istana, dan bahkan pengaruh politik.
Selama berabad-abad, para Janissari mendominasi medan perang, memainkan peran penting dalam perluasan Kekaisaran Utsmani.
Janissari memainkan peran penting dalam banyak kampanye militer dan perang yang dilakukan Khilafah Utsmani. Di antara serangkaian kesuksesan adalah kemenangan dalam Pertempuran Kosovo (1389).
Keberhasilan merebut Konstantinopel tahun 1453 dibawah pimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih. Dengan menggunakan senjata api, Korp Janissari berhasil membobol tembok kota.
Juga dalam Perang Mohács (1526), di mana mereka menghancurkan pasukan Hungaria. Di saat Eropa masih menggunakan ksatria dan kuda, Pasukan Ustamni telah punya militer modern.
“Mereka adalah pasukan modern, jauh sebelum Eropa bersatu,” kata Virginia H. Aksan, profesor emeritus sejarah di Universitas McMaster Kanada dikutip Atlas Obscura.
Sebelum militer modern seperti sekarang, Korps Janissari sudah memiliki hierarki jelas. Puncak pimpinan disebut “Agha”, komandan seluruh korps. Di bawahnya perwira yang disebut “Çorbaci” dan “Odabaşi”.
Janissari dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang disebut “Ortas,” mirip dengan kompi militer. Setiap unit memiliki pemimpin dan identitas uniknya sendiri.
Korps diorganisasikan menjadi tiga divisi utama: Cemaat (pasukan garis depan), Bölük (pasukan provinsi), dan Sekban (pasukan tidak teratur). Struktur ini memastikan efisiensi dan komunikasi yang jelas.
Ada pula jabatan “Yayabaşi”, bertanggung jawab menjaga disiplin. Juga “Sekbanbaşi” mengelola pasokan logistik.
Di awal abad ke-16, jumlah anggota Janissari mencapai 20.000 tentara. Seiring waktu, posisi Janissari tidak hanya sekadar korps militer khusus, bahkan telah memegang kekuasaan politik dan memperoleh hak istimewa di Kekaisaran. []