Jepang memberi 600 ribu yen (Rp 84 juta) bagi pasangan yang mau menikah dan punya bayi, sementara Korea memberikan sepasang kekasih 1 juta won (Rp 11,9 juta) agar mereka menikah
“Di sejumlah negara Barat, perdebatan tentang hak-hak pria dan wanita telah berubah menjadi fantasi yang sempurna,” katanya pria ini berapi-api.
Jangan salah, yang pidato ini adalah Vladimir Vladimirovich Putin adalah seorang politikus Rusia, ia adalah Presiden Rusia saat ini, di Valdai International Discussion Club di Sochi, Rusia tahun 2021 lalu.
Putin mengatakan, di abad ke-21 institusi keluarga sedang terancam. Menurutnya, adalah ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’ saat Barat membolehkan anak-anak berganti jenis kelamin.
“Mengerikan ketika anak-anak di Barat diajari gagasan bahwa anak laki-laki bisa menjadi perempuan,” kata Putin, yang ditujukan kepada Amerika Serikat.
Putin mengatakan, ada kejahatan kemanusiaan sedang bersembunyi di balik bendera pelangi yang menjadi simbol gerakan LGBT yang kini menjadi pemandangan mengerikan di Barat dan Eropa.
Pada pertemuan itu Putin mengatakan bahaya runtuhnya institusi keluarga yang disebutnya akan mengakhiri “hal-hal dasar seperti ibu, ayah, keluarga atau perbedaan gender.”
Setahun kemudian, ia mengulangi lagi kecamannya dalam sebuah pidato akhir tahun, menggambarkan nilai-nilai Barat yang korup.
“Lihatlah apa yang mereka lakukan terhadap rakyat mereka sendiri: penghancuran keluarga-keluarga, penghancuran identitas budaya dan nasional, dan penyimpangan yang merupakan pelecehan terhadap anak hingga pedofilia diiklankan sebagai norma, menghancurkan nilai-nilainya, para pendeta dipaksa untuk memberkati pernikahan sesama jenis,” ucap Putin.
Di bawah Putin, pemerintah Rusia kemudkan memperluas aturan hukum anti-LGBTQ.
***
Adalah Mell Atock, pendeta asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tiba-tiba viral karena pernyataan di depan jemaatnya yang merasa bersyukur Indonesia mayoritas beragama Islam.
“Saya bersyukur Indonesia mayoritas Islam, saya tidak bisa bayangkan kalau Indonesia cuma mayoritas Kristen, dipenuhi oleh pendeta-pendeta liberal, maka saya yakin mereka akan melegalkan juga seperti beberapa pendeta atau gereja di Australia, Amerika, Eropa yang sudah melakukan pemberkatan pernikahan sejenis dengan alasan HAM,” tuturnya.
Apa yang disampaikan Putin dan Mell Atock bukanlah kecemasan biasa. Ini sebuah kecemasan serius yang melanda warga dunia.
Barat dan Eropa kini mengalami kehancuran moral yang berpotensi mengancam institusi keluarga. Seks bebas, legalisasi LGBT, pernikahan sesama jenis, legalisasi aborsi, hak ganti kelamin, hingga gaya hidup childfree (tidak mau punya anak).
Di sisi lain, Otorita Katolik di Vatikan ikut goyah dengan fenomena LGBT dan perkawinan sejenis. Hingga tahun tahun 2023 Paus mengeluarkan kebijakan baru mengizinkan para pastor memberkati pasangan yang belum menikah dan pasangan sesama jenis dengan “syarat tertentu”.
“Pemberkatan semacam itu tidak boleh dilakukan dengan upacara gereja apa pun yang memberikan kesan pernikahan,” demikian isi dokumen yang dikeluarkan Dikasteri untuk Ajaran Iman dan disetujui oleh Paus Fransiskus.
Konsesi ini tentu merupakan perubahan besar selama pendirian gereja, yang boleh dikata institusi keagamaan besar itu boleh jadi oleng oleh tekanan gerakan LGBT.
Dampak runtuhnya moralitas Barat mulai terasa. Dalam laporan berjudul Families in a Changing World, yang dirilis PBB pada musim panas tahun 2019, menyebut, negara-negara di Eropa dan Asia mulai cemas menurunnya jumlah tingkat kelahiran penduduk.
Negara-negara seperti; Jerman, Prancis, Britania Raya, Swedia, Swiss, Belanda, Norwegia, berteriak karena minat warganya menikah rendah dan angka kelahiran turun.
Juga negara Asia seperti; Jepang, Singapura, Korea, hingga Thailand, merasakan dampak sama, bahwa penduduknya tinggal lansia.
Iming-iming berhadiah
Karenanya, sejak tahun 2020, Jepang memberi iming-iming warganya yang menikah mulai April 2021 akan menerima uang 600 ribu yen (setara Rp 84 juta).
Tak hanya itu, orang tua baru akan mendapat tunjangan kelahiran atau Childbirth and Childcare Lump-Sum Grant sebesar 420.000 yen begitu anak mereka lahir.
Tahun 2024, Jepang menawarkan insentif bagi wanita lajang yang berminat pindah dari Tokyo ke daerah pedesaan untuk menikah. Langkah ini dilakukan untuk meratakan jumlah wanita di pedesaan yang semakin menyusut.
Nilai insentifnya hingga 1 juta yen (setara Rp 106 juta) bagi keluarga yang pindah dari 23 distrik di Tokyo.
Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menyediakan uang sebesar 500.000 won (Rp 5,9 juta) bagi penduduk di Busan, yang mau berpacaran guna mengatasai kelangkaan bayi.
Dengan keputusan ini, sepasang kekasih berhak 1 juta won (Rp 11,9 juta) dengan harapan bisa mendorong mereka menikah dan segera punya bayi, demikian dikutip TheKoreaTimes.
Sebuah desa kecil di sebelah selatan Polandia, Miejsce Odrzanskie memberi hadiah warganya yang bisa hamil karena wilayah itu dilanda krisis anjloknya jumlah angka kelahiran bayi laki-laki.
Pemerintah Singapura memberikan insentif dan bonus untuk mendorong masyarakat memiliki anak. Setiap pasangan yang memiliki bayi menerima 11.000 dolar Singapura (Rp 122,96 juta). Selain itu, cuti ayah yang dibayar pemerintah ditingkatkan dua kali lipat.
Sementara dunia berjibaku dengan jumlah angka lahir bayu, anehnya mereka justru membiarkan seks bebas dan LGBT mendapat izin resmi, padahal mereka biang dari matinya institusi keluarga.
Alhamdulillah, di tengah kegalauan dunia –khususnya Barat— yang telah mengalami resesi seksual dan angka kelahiran, hal ini tidak terjadi pada dunia Islam.
Laporan Pew Research Center (PRC) menemukan, populasi Muslim dunia diperkirakan akan terus meningkat sekitar 35% dalam 20 tahun ke depan.
PRC memprediksi, populasi Muslim justru akan meningkat dari 1,6 miliar pada tahun 2010 menjadi 2,2 miliar pada tahun 2030. Ini berarti, populasi Muslim secara global diperkirakan akan tumbuh dua kali lipat dibandingkan populasi non-Muslim selama dua dekade mendatang. []
Benteng Pertahanan Keluarga
Islam benteng terakhir penjaga keluarga, bahkan seperempat bagian dari hukum Islam berbicara tentang keluarga, sesuatu yang tak dimiliki agama lain
Hanya Islam agama memiliki ajaran komprehensif dan terinci dalam masalah keluarga dan memiliki semangat bekerlangsungan menjaga generasi di muka bumi.
Islam agama satu-satunya mengatur segala hal dari hal terkecil sampai hal terbesar, dari urusan cebok sampai urusan langit.
Ada puluhan ayat Al-Qur’an dan ratusan hadis Nabi ﷺ yang memberikan petunjuk sangat-sangat jelas menyangkut awal pembentukan keluarga, hak dan kewajiban masing-masing unsur dalam keluarga hingga masalah kewarisan, perwalian, menjaga keturunan hingga penyiapan generasi pelanjut agar keberlangsungan kehidupan alam menjadi stabil.
Sedang kelangsungan hidup manusia ini hanya mungkin dengan berlangsungnya keturunan melalui pernikahan antara pria dan wanita agar melahirkan dan keturunan, yang merupakan anjuran Nabi ﷺ. Hal ini tidak akan terjadi dengan pernikahan sejenis.
Bukti Islam memberikan perhatian besar penataan keluarga adalah seperempat bagian dari fiqh (hukum Islam) yang dikenal dengan rub’u al-munâkahat (seperempat masalah fiqh nikah) berbicara tentang keluarga.
Menikah dengan lawan jenis dan memiliki keturunan dalam Islam merupakan Sunnah dan anjuran Baginda Muhammad ﷺ.
“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Anas bin malik radhiyallahu ‘anhu berkata, yang artinya: “Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “nikahilah wanita yang penyayang dan subur karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban)
Dari perkataan Nabi di atas sudah sangat jelas bahwasanya perkawinan sejenis dan childfree –apalagi sampai sengaja menjomblo layaknya tren di Barat– merupakan konsep yang tidak dikenal dalam ajaran Islam.
Di antara fungsi yang dapat dilihat dari pernikahan adalah; menjaga kesucian diri dan bersikap iffah (menahan dari apa yang diharamkan), membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (keluarga yang diselimuti ketentraman, kecintaan, serta rasa kasih sayang), pendidikan akhlak, dan menjaga garis keturunan yang jelas dan terhormat.
Hasan Sayyid Hamid Khitab dalam kitab Maqasidun Nikah, mengutip pendapat Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, bahwa tujuan pernikahan adalah menjaga keberlangsungan hidup manusia.
Dengan adanya pernikahan, umat Islam dapat melahirkan anak-anak shalih dan shalehah, hal yang tidak pernah dikenal di Barat.
“Alasan ini secara hakikat juga menjadi alasan disyariatkannya pernikahan. Karenanya tidak mungkin terbayang adanya anak salih tanpa pernikahan, sehingga menikah adalah sebab yang menjadi perantaranya.” (dalam Maqasidun Nikah wa Atsariha Dirasatan Fiqhiyyatan Muqaranatan).
Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl As-Sarakhsi dalam kitab Al-Mabsuth, mengatakan, kemaslahatan dari pernikahan tidak hanya melindungi wanita dan menghindarkan dari zina. Tapi, juga memperbanyak jumlah umat Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
“Di antaranya pula memperbanyak populasi hamba Allah dan umat Nabi Muhammad ﷺ , serta memastikan kebanggaan rasul atas umatnya.”
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada pasangan kami dan keturunan kami sebagai penenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS: al-Furqan: 74).
Islam memiliki perhatian serius tentang pentingnya menyiapkan generasi masa depan dan khalifah yang akan bertanggung jawab memakmurkan bumi, melestarikannya dengan berbagai usaha yang baik (amal shaleh), sehingga bumi ini menjadi tempat yang baik dan bermanfaat untuk semua mahkluk (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). []