Lebih 200 juta Dalit di India hidup tanpa pengakuan sebagai manusia, perlahan mulai lari dalam pelukan Islam
James (22), seorang mahasiswa teknik di Sri Vidya Niketan College, Tamil Nadu, adalah satu dari ribuan korban kekerasan berbasis kasta. Ia diculik kakak kelasnya, disekap beberapa hari di sebuah kamar hotel, dan mengalami penyiksaan.
“Saya dikurung dan diserang secara secara brutal selama tiga hingga empat hari,” kisah James kepada media lokal.
Tak hanya dipukuli dengan tangan, ia dihantam batang besi, dipaksa meminum air seni—tindakan yang mencerminkan rendahnya para pelaku memandang eksistensi seorang Dalit .
Tragedi James hanyalah salah satu potret dari realitas negeri yang bangga dengan sekulerisme, tapi jutaan warganya masih hidup dalam bayang-bayang kasta.
Dalit —yang secara harfiah berarti “tertindas”—adalah komunitas yang paling menderita. Meski sistem kasta telah dihapuskan pada 1950, aksi diskriminasi masih terus terjadi dalam masyarakat Hindustan, sebutan Tanah Hindu di sekitar Sungai Indus.
Menurut data, ada lebih dari 200 juta Dalit di India yang hidup di tengah stigma sosial yang menindas, dan diperlakukan seolah bukan bagian manusia.
Disingkirkan dari Kemanusiaan
Sistem kasta dalam Hindu menempatkan Dalit di luar struktur sosial utama. Mereka bukan Brahmana, Kshatriya, Vaishya, atau Shudra. Pekerjaan mereka secara turun-temurun dianggap “najis”: membersihkan kotoran manusia, mengurus kremasi, dan pekerjaan rendahan lainnya.
Di beberapa desa di Tamil Nadu, Dalit bahkan tidak boleh mengenakan pakaian layak, memasuki kuil, atau berjalan bebas di jalan umum.
Di warung atau kedai, masih banyak dijumpai praktik “dua gelas”, orang Dalit harus minum dari gelas khusus yang berbeda dari pelanggan umum.
Islam: Jalan Menuju Martabat
Meski India memiliki kebijakan afirmatif bagi Dalit berupa kuota pendidikan dan pekerjaan, hak tersebut tidak akan diberikan kepada Dalit yang memilih agama di luar Hindu.
“Setelah mereka berpindah agama, mereka dikeluarkan dari sistem perlindungan,” ujar Meenakshi Ganguly dari Human Rights Watch.
Pada kasus di distrik Pudukottai, ada rumah dan kendaraan milik Dalit dibakar kelompok kasta dominan. Polisi menjerat segelintir pelaku dengan pasal ringan tapi korbannya malah ditangkap.
Dalam keputusasaan, sebagian Dalit menemukan harapan dalam Islam. Di distrik Coimbatore, Tamil Nadu, lebih dari 400 Dalit masuk Islam setelah tragedi tembok kasta runtuh menewaskan 17 orang.
“Kami masuk Islam karena di sini kami diperlakukan sebagai manusia,” ujar seorang mualaf dalam wawancara dengan News18.
Di desa Dombucheri, 8 keluarga Dalit memilih jadi Muslim setelah bertahun-tahun dilecehkan. Namun, jalan ini bukan tanpa risiko.
Rakesh, seorang Dalit dari kasta “dhobi” (pencuci pakaian), yang kini bernama Ali Kanojia, mengaku harus menghadapi perlawanan keras keluarganya.
Seorang mualaf lainnya, Abdulrahman Bharti, nyaris tewas ditembak orang-orang dari komunitas lamanya.
“Jika mereka tidak bisa menghentikan kita, mereka mencoba membunuh kita,” katanya kepada Al Jazeera.
Menurut Amnesty International (2023), 72% mualaf Dalit mengalami pengucilan dari keluarga, sementara 30% menghadapi kekerasan fisik dari kelompok kasta atas.
Di tengah kegagalan negara memberikan perlindungan dan keadilan, banyak Dalit memilih untuk membangun kembali harga diri mereka—bukan di pengadilan, tapi dalam pelukan iman yang menyetarakan semua manusia di hadapan Tuhan, yakni Islam. []