Dakwah dan Hikmah dari Secangkir Kopi

Ustadz Rohman Savawi

Dakwah dan Hikmah dari Secangkir Kopi

Dengan kopi, obrolan menjadi lebih asyik dan pesan-pesan dakwah lebih gampang masuk 

Rangkaian shalat Maghrib di Masjid Thoriqul Huda baru saja usai. Beberapa jamaah tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka memilih tetap di masjid sambil menunggu waktu Isya’, sembari menyeruput secangkir kopi.

Di teras masjid telah disediakan sebuah dispenser pemanas air, beberapa cangkir, berbagai jenis kopi, dan setoples gula. Hal ini sengaja disediakan oleh Ustadz Rohman Savawi untuk menggaet jamaah agar betah berada di masjid.

“Jika ada kopi, suasana menjadi lebih hangat, obrolan menjadi lebih asyik dan pesan-pesan dakwah lebih gampang masuk,” ungkap pria kelahiran 20 Mei 1993 itu.

Itulah salah satu cara pendekatan Rohman di daerah Satuan Pemukiman (SP) 6, Jalan Poros Kampung Sawara Jaya, Kecamatan Waropen Bawah, Kabupaten Waropen, Papua. 

SP 6 adalah wilayah transmigrasi, areanya masih hutan, dan kondisi jalan belum beraspal bahkan banyak lubang. Jika musim hujan, maka jalan itu tergenang dan berlumpur. Jarak satu pemukiman dengan pemukiman lain juga berjauhan.

Di lokasi ini lebih banyak transmigran dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah Muslim ada 33 kepala keluarga. Namun jumlah gereja ada 4.

Sementara masjid hanya 1 buah, dan Rohman menjadi pengelola masjid satu-satunya ini.

Saat awal bertugas dakwah, masjid itu sepi. Jangankan shalat 5 waktu, untuk shalat Jumat saja hanya dihadiri 8 orang, termasuk imam, khatib, dan muadzin.

Warga mayoritas berprofesi sebagai petani. Jika siang hari mereka berkebun di ladang dan kembali ke rumah menjelang malam, sedang keesokan paginya mereka pergi ke pasar menjual hasil kebunnya.

Rohman berusaha “menjamu” warga dengan berbagai macam cara. Tak hanya kopi, jika malam Ahad, ia menyediakan saraba, minuman rempah khas Makassar. Adapun setiap selesai shalat Jumat, jamaah disuguhi makanan gratis, lengkap dengan lauk pauknya.

Alhamdulillah, lambat laun jamaah mulai ramai di masjid. Jika dulu shalat Jumat hanya 8 orang, kini sudah lebih dari 2 shaf.

Di depan masjid disediakan lapangan olahraga serbaguna untuk anak-anak. Lapangan ini bebas digunakan kapan saja, mulai dari bermain futsal, bulu tangkis, hingga voli.

“Salah satu pesan dakwah sederhana, mengajak berhenti bermain ketika adzan berkumandang. Alhamdulillah, mereka sudah sadar kapan waktunya untuk shalat tanpa dipaksa,” katanya.

Dari Kampung ke Kampung

Rohman tak hanya berdakwah di kampung tersebut. Kampung-kampung sebelah juga dijelajahinya, mulai dari khutbah Jumat, pengajian umum, hingga membina majelis taklim.

“Materi dakwah yang kami bawakan yang ringan-ringan, yang mudah dimengerti. Sesekali kami mengambil tema dari Majalah Suara Hidayatullah,” paparnya.

Ada sebuah kisah yang tak terlupakan. Suatu ketika Rohman terjadwal menjadi khatib Jumat di sebuah kampung tetangga. Lokasinya cukup jauh dari rumah. Naik sepeda motor perlu waktu sekitar satu jam perjalanan.

Alat transportasi satu-satunya yang dimiliki ketika itu hanyalah sebuah motor jenis bebek butut yang bolak-balik rusak. Dalam empat bulan pemakaian, sudah tiga kali mengalami kerusakan mesin.

Ketika ia hendak berangkat, mesin sepeda motor tiba-tiba macet. Akhirnya, ia meminjam sepeda motor milik milik warga yang biasanya digunakan untuk mengambil rumput di sawah.

“Dalam perjalanan, ternyata motor itu kehabisan bensin. Terpaksa saya harus mendorong motor lebih dari lima kilometer karena di tengah hutan tidak ada tempat yang menjual bensin,” kisahnya sambil tertawa.

Alhasil, Rohman terlambat tiba di tujuan. Ia pun tidak bisa melaksanakan tugas sebagai khatib karena waktu shalat Jumat sudah lewat.

Rohman sangat bersyukur, pada bulan September 2022 ada kabar bahwa dirinya akan mendapatkan bantuan armada dakwah berupa sepeda motor dari BMH dan YBM BRILiaN.  

Sayangnya, di wilayah itu tidak ada dealer atau penjual motor. Sepeda motor hanya bisa dibeli di daerah Jayapura, sekitar 450 kilometer jaraknya.

“Sepeda motor harus harus dikirim via laut dengan kapal perintis. Sementara kapal perintis yang ada saat itu tidak lagi boleh membawa kendaraan,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, setelah lima bulan, kami mendapat kabar bahwa ada satu kapal yang bisa memuat kendaraan. Akhirnya, pada bulan Februari 2023, sepeda motor baru bisa tiba di Waropen. Tentu ini sangat bermanfaat dan menambah semangat kami dalam berdakwah,” ucapnya penuh syukur.

Jika dulu bila mengisi khutbah Jumat ke kampung lain memakan waktu sekitar 1 jam, kini bisa ditempuh hanya 40 menit saja, alhamdulillah. 

Ia berharap nanti ada banyak dai yang bisa berdakwah di lokasi ini, sehingga bisa bekerja sama menjangkau semua lokasi.*/Siraj el-Manadhy