Citra Diri Muslimah

Berjuluk “al-kubra” Wanita ini memiliki personal branding yang  menyeruak hingga langit ke-tujuh, membuat Rasulullah tak mampu melupakannya

“Telah mati satu kaum, tetapi tidaklah mati keutamaan mereka. Masih hidup suatu kaum, namun mereka telah mati menurut manusia lainnya.” (Imam Asy-Syafi’i)

***

Hidup di era di mana dunia maya menjadi saingan dunia nyata adalah tantangan sekaligus ujian bagi manusia. Hari ini dipuji, esok diinjak-injak. 

Masih segar dalam ingatan, figur publik di Jawa Barat yang selalu mendapat dukungan dan pujian dan dihujat habis-habisan saat jatuh dan diketahui kehidupan rumah tangganya tak seperti apa yang ditampilkan di media.

Dunia, yang digambarkan oleh Allah Swt sebagai permainan, hiasan, dan ajang pamer, adalah ujian tersendiri bagi manusia untuk bersikap jujur, baik di dunia nyata ataupun dunia maya. 

Padahal, sebagaimana kenyataan dunia, tidak semua yang tampak indah adalah keindahan, dan tidak semua yang tampak buruk adalah keburukan. 

Muslimah tidak bisa menjadikan semua hal berjalan sesuai kehendak orang lain, namun sebagaimana produk yang diperjualbelikan, muslimah dapat menjaga brand yang dijualbelikan, tetap diminati dan disukai oleh semua orang di setiap masa. Itulah citra diri.

Jauh sebelum pembahasan tentang personal branding digaung-gaungkan, Allah Swt dan Rasul-Nya telah memperingatkan manusia untuk menjaga integritas diri sebagai muslim/ muslimah, mukmin/ mukminah. 

Menyelaraskan hati dan perilaku, perkataan dan perbuatan, sehingga apa yang ditampilkan di hadapan orang lain adalah cerminan dari apa yang diukir dalam hati. 

Allah Swt berfirman dalam QS. Al- Shaf: 2-3; “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan. Itu sangatlah dimurkai di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”

Ketika manusia hanya menilai segala sesuatu dari apa yang mereka lihat, disitulah muslim/ muslimah dituntut untuk menjaga integritas dirinya, bahwa nilai seseorang dilihat dari seberapa baik dia menjaga integritas dirinya sebagai muslim yang membawa kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam. 

Menjaga integritas diri bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu, Allah Swt pun tidak seketika mengiyakan pernyataan orang-orang Arab Badui bahwa mereka telah beriman. 

Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 14, yang artinya; “Orang-orang Arab Badui berkata, “kami telah beriman. “katakanlah kepada mereka, kalian belum beriman, tetapi katakanlah, “kami telah Islam,” karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak mengurangi sedikitpun amalan kalian. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” 

Muslimah telah memiliki figur yang personal branding-nya tidak hangus dimakan waktu, dialah Khadijah al-kubra, istri Rasulullah ﷺ. 

Kemuliaannya telah berkilau sejak sebelum diutusnya Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Julukan ath-Thahirah, perempuan yang suci, telah dikalungkan padanya sejak belum mengenal Muhammad. 

Paras rupawan, nasab yang tinggi, kekayaan melimpah, kepiawaian dalam berniaga, dan akhlak mulia menjadi hiasannya hingga beliau wafat. 

Citra dirinya tidak hanya mewangi seantero jagad dunia, namun juga menyeruak hingga langit ke-tujuh, hingga Allah Swt dan para malaikat mengucapkan salam untuknya, menjadikan Baginda tidak pernah melupakannya walau telah banyak perempuan menduduki tempatnya sebagai istri. Radhiyallahu ‘anha wa ardhaahaa.*