Kisah kesalahan Hafshah menjadi pelajaran berharga baginya, bagi istri-istri Rasulullah lainnya, juga bagi seluruh muslimah
Oleh: Sarah Zakiyah
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, menjadi pernyataan yang diaminkan semua orang. Namun, tidak semua orang dapat belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan, karenanya, tidak sedikit orang yang jatuh pada kesalahan yang sama beberapa kali.
Kesalahan yang sering dilakukan perempuan dalam lingkaran kehidupannya adalah saat menjalankan peran sebagai istri dan ibu.
Kesalahan ini pula yang pernah dilakukan oleh Hafshah bint Umar bin al Khattab.
Menjadi salah satu istri Nabi Muhammad ﷺ, adalah kebanggaan sekaligus persaingan untuk mendapatkan perhatian lebih dari Beliau.
Hafshah bint Umar dinikahi oleh Rasulullah ﷺ setelah dia menyelesaikan masa iddahnya dari suaminya, Khunais bin Hudzafah as Sahmi yang meninggal karena luka parah yang dideritanya pasca Perang Uhud.
Dalam menjalankan peran sebagai salah satu istri Nabi, Hafshah pernah melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan Rasulullah ﷺ menjatuhkan talak padanya.
Hafshah, sebagaimana perempuan lainnya, memiliki rasa cemburu terhadap istri-istri Rasulullah ﷺ lainnya. Di awal pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Zainab bint Jahsy, beliau tinggal lama di rumah Zainab dan minum madu yang beliau sukai.
Kehadiran Zainab menimbulkan kecumburuan baru pada Aisyah dan Hafshah, maka keduanya bersepakat untuk merekayasa cerita. Singkat cerita, ketika Rasulullah mendatangi bilik mereka, keduanya mengatakan bahwa beliau telah mengonsumsi madu yang berkualitas tidak baik karena lebah madu tersebut dihasilkan dari buah maghafir yang berbau tidak sedap.
Untuk mendapatkan rida dari Aisyah dan Hafshah, Rasulullah pun mengatakan untuk tidak minum madu lagi di rumah Zainab.
Dalam riwayat lain, kehadiran Maria al-Qibtiyah dalam rumah tangga Rasulullah ﷺ menyebabkan kecemburuan yang sangat pada diri Hafshah, lebih-lebih lagi dia mendapati Rasulullah ﷺ berduaan bersama Maria di bilik Hafshah saat dia tidak ada.
Hafshah marah akibat cemburu. Untuk meredakan kemarahan Hafshah dan menyenangkan hatinya, Rasulullah menyatakan tidak akan mendekati Maria lagi. Dua kisah inilah yang menjadi sebab turun awal Surah at- Tahrim.
Nabi ﷺ juga berpesan kepada putri Umar itu agar tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun. Karen tak memerhatikan pesan Rasulullah ﷺ, Hafshah menceritakan kejadian tersebut pada Aisyah.
Karenanya Allah Swt menegur Rasul-Nya karena telah mengharamkan apa yang seharusnya halal baginya (minum madu dan menggauli budak). Kejadian ini menyebabkan Rasulullah ﷺ menalaknya satu kali.
Ketika Umar mengetahui berita ini, Umar sangat sedih hingga menaburkan debu di atas kepalanya dan berkata, “Allah tidak akan memedulikan Umar dan putrinya setelah ini.”
Sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada Umar bin Khattab dan Hafshah, Allah Swt mengutus malaikat Jibril menyampaikan perintah pada Rasulullah, agar merujuk Hafshah, dengan mengatakan; “Rujuklah Hafshah, sungguh dia adalah wanita yang banyak shalat dan berpuasa, dia adalah salah satu istrimu di Surga.”
Inilah satu-satunya kisah kesalahan Hafshah yang menjadi pelajaran berharga baginya, bagi istri-istri Rasulullah lainnya, juga bagi seluruh muslimah.
Sepeninggal Rasulullah ﷺ Hafshah selalu menjaga dirinya, tetap memperbanyak shalat dan puasa, juga tidak pernah meninggalkan rumahnya kecuali untuk berhaji ke Baitullah.*