Lebih dari 10 gereja ditutup di Wales setiap tahunnya. Makin banyak warga Inggris malas beribadah, sementara jumlah Muslim terus bekembang
Keluarga Mia pindah dari Negara Bagian Washington ke California. Di tempat baru, orang tuanya mempersiapkan dia dan saudara lelakinya sebuah gereja. Sayangnya, ia perlahan meninggalkan tempat ibadahnya.
“Hingga sekitar enam bulan yang lalu, saya telah menjalani enam tahun tanpa gereja di rumah—yang merupakan kenyataan yang sudah tidak asing lagi bagi banyak orang Kristen Gen Z,” ujar Mia Staub, seorang manajer konten di Christianity Today.
Sementara itu, beberapa gereja di inggris mulai menghindari kata “gereja”. Banyak tempat ibadah melakukan rebranding (melakukan proses perubahan citra) agar terkesan lebih ‘modern’, dan memikat jamaah datang ke tempat ibadah.
Gambaran di atas adalah secuil kisah menurunnya minat warga Inggris datang ke gereja selama beberapa decade belakangan ini. Satu dekade lalu, sebagian besar warga Inggris (60 persen) memilih agama Kristen saat disurvei.
Menurut survei tahun 2022, hanya enam% orang dewasa di Inggris yang beragama Kristen. Kehadiran rata-rata untuk kebaktian Minggu Gereja Inggris pada tahun 2021 adalah 509.000.
Meskipun paling menonjol di kalangan jemaat Anglikan, Katolik, dan Metodis, penurunan telah memengaruhi hampir setiap denominasi. Jika tren ini terus berjalan, Kristen diperkirakan ajan jadi agama minoritas di Inggris.

Banyak gereja ditutup
Data yang diperoleh dari organisasi Church in Wales menunjukkan 115 gereja Anglikan ditutup selama periode 10 tahun, sekitar 8% dari keseluruhan gereja yang ada.
Sejauh ini tinggal 1.319 gereja yang masih digunakan. Saat ini ada 11 bangunan gereja yang diiklankan untuk dijual di laman organisasi gereja tersebut.
Lembaga National Churches Trust mengatakan tingkat penutupan gereja-gereja di Wales relatif lebih tinggi daripada di Inggris. Dengan rasio perbandingan penduduk, dengan sekitar 20 gereja yang ditutup setiap tahunnya.
Baru-baru ini National Trust Church melakukan survei terhadap berbagai gereja di Wales. Mereka menemukan yang dihadapi gereja adalah penurunan jumlah jemaat dan kesulitan menarik jemaat baru.
Eddie Tulasiewicz, kepala bagian komunikasi di National Trust Church mengatakan, setiap minggunya ada kapel ditutup. Namun dirinya untuk memperkirakan akibat bragamnya aliran.
“Apa yang dibangun pada abad ke-19 untuk menampung 6.000 hingga 10.000 orang menyusut menjadi 2.000 atau 3.000 orang dan tidak ada lagi orang-orang yang beribadah di sana,” kata dia.
Lembaga National Churches Trust adalah salah satu badan yang memberikan hibah untuk membantu proyek renovasi, menyumbang dana senilai £500.000 atau Rp9 miliar di Wales selama lima tahun terakhir.
Pelecehan seks
Survei yang dilakukan YouGov menunjukkan, penurunan tingkat kepercayaan orang datang ke gereja diakibatkan gereja sering menutupi skandal pelecehan anak John Smyth, yang memaksa pengunduran diri Uskup Agung Canterbury Justin Welby.
Penelitian menemukan 39 persen masyarakat memiliki pandangan tidak baik terhadap gereja, dan hanya 32 persen berpandangan baik.
Jajak pendapat yang sama menunjukkan, Islam justerru terus mengalami pertumbuhan pesat di seluruh Inggris dan Wales. Populasi Muslim, meningkat dari 4,9 persen (dari populasi Inggris), menurut Kantor Statistik Nasional.*
Keterangan gambar, Gereja St Marry Magdelene di Llanfaglan di Gwynedd adalah salah satu bangunan gereja yang akan dijual.