Palestina dan rakyat Gaza, adalah salah satu contoh bangsa terkuat di dunia, menjaga marwah Muslim sedunia
“Al-Aqlu al-salim, fi al-jism al-salim” (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat dan kuat), demikian sebuah ungkapan pepatah Arab popular yang sering kita dengar.
Kesehatan jasmani menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh Islam. Dalam Islam, manusia dilarang menzalimi diri sendiri.
Tidak menjaga kesehatan jasmani berarti sama saja dengan menzalimi diri sendiri. Bahkan dalam melakukan ibadah dengan maksimal, diperlukan diperlukan jasmani yang sehat.
Umat Islam tidak bisa rujuk, sujud –bahkan– sholat tahajud berlama–lama jika tidak diberi kesehatan fisik kuat. Bahkan salah rukun Islam kelima, beribadah haji, justru menuntut fisik yang kuat.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang mukmin yang kuat, lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt. daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya.’ Ini karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan setan.” (HR. Muslim no. 2664. Lihat Syarah Nawawi, jilid 8, hal. 260.).
Fisik adalah sesuatu yang telah ditulis dan ditakdirkan Allah di Lauh al-Mahfuz. Termasuk bentuk, warna kulit, bahasa, dll.
Karena fisik bersifat pemberian maka tugas kita hanyalah mensyukuri, menjaga dan merawatnya. Kita dilarang mencela dan merusak pemberian tersebut.
Kekuatan fisik termasuk hal yang wajib kita miliki, agar pengabdian kita kepada Allah bisa optimal. Bagaimana mungkin kita bisa maksimal beribadah dan berjihad di jalan Allah, apabila fisik kita lemah dan lembek.
Sebagai ilustrasi, pedang Rasulullah ﷺ dan Ali bin Abi Thalib r.a, serta para sahabat lainnya, rata-rata berukuran besar, panjang, dan berat. Beberapa catatan menyebut, ukuran pedang Nabi dan para sahabat 99 sampai 140 cm, lebar 8 sampai 10 cm dengan berat antara 2- 6 kg.
Logikanya, kalau mereka tidak memiliki tangan yang kuat, mereka tidak akan mampu menggunakannya.
Bagaimana mungkin orang biasa bisa lincah membawa pedang berat sampai memacu kuda dan berperang jika tangan dan badan mereka tidak kokoh?
Islam dan kesehatan
Islam adalah aturan hidup. Umat Islam tidak hanya menjalankan ibadahnya di akhir pekan atau perayaan tahunan. Islam mengajarkan tatanan dan proses kehidupan sehari-hari.
Islam tidak hanya mengatur kegiatan secara spiritual dan moral, tetapi juga kebutuhan dan keinginan bawaan manusia itu sendiri, termasuk mengatur kesehatan.
Nabi ﷺ dan para sahabatnya secara alamiah dikenal bugar secara fisik. Tidak seperti zaman sekarang yang mudah, kala itu kehidupan lebih sulit, setiap bepergian harus menempuh jarak panjang, itupun berjalan kaki.
Salah satu bagian dari ajaran Islam yang memikirkan fisik sehat adalah perintah nabi kita ﷺ agar memperkuat fisik, giat berlatih olahraga, dengan harapan agar umat Islam menjadi muslim yang sehat dan kuat.
Dalam sebuah kisah disebutkan, Rukanah, seorang pegulat terkenal di Makkah pernah mengajak Baginda Rasulullah ﷺ bergulat.
“Sesungguhnya Rasulullah gulat dengan Rukanah yang terkenal kekuatannya itu, kemudian ia berkata; Domba lawan domba. Kemudian Rasulullah bergulat dan beliau bersabda: Berjanjilah denganku untuk (melakukan gulat) lagi di lain waktu. Kemudian Rasulullah bergulat seraya bersabda: Berjanjilah denganku, lalu Rasulullah ﷺ bergulat untuk ketiga kalinya. Kemudian orang itu bertanya; apa yang harus saya katakan kepada keluargaku? Rasulullah ﷺ menjawab: Katakan “domba telah dimakan oleh serigala, dan seekor dombapun lari.” Kemudian apa pula yang saya katakan untuk yang ketiga? Rasulullah ﷺ menjawab : Kami tidak dapat mengalahkan kamu untuk bergulat karena itu ambillah hadiahmu.” (HR. Abu Daud).
Bagaimana mungkin Nabi kita mampu mengimbangi seorang pegulat profesional jika beliau tidak rajin latihan olahraga berat tersebut?
Dalam Islam, himbauan semacam ini insya Allah termasuk ibadah, dan bernilai pahala di sisi Allah.
“Ajarkanlah anak-anak kalian berenang, melempar (panah) dan ajari kaum wanita kalian memintal.” (HR. Al-Baihaqi).
Dalam hadits shahih lain yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim Nabi ﷺ pernah bersabda: “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah.”
Berenang adalah simbol kekuatan fisik, skill, menguasai medan, dan pengetahuan. Memanah adalah simbol keakurasian, fokus, dan konsentrasi.
Berkuda simbol kecepatan dan ksatria. Sementara memintal simbol menyusun strategi, rapih, menyelesaikan masalah, dan ketelitian.
Dengan pengertian hadits di atas, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan kekuatan di sini adalah kemauan yang kuat dan keinginan untuk beramal bagi akhirat. Maka orang yang disebut ‘mukmin kuat’ adalah orang yang lebih berani dan tegas dalam berjihad melawan musuh, lebih cepat berperang dan mencarinya (jihad, red), lebih teguh dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, lebih sabar menghadapi musibah yang menimpa, lebih kuat melaksanakan tugas-tugas berat karena Allah. Ia gemar shalat, berpuasa, berdzikir, dan mengerjakan ibadah-ibadah lainnya, dan lebih giat dalam mencari perkara-perkara tersebut, dan lebih cermat dalam mengerjakannya.” [dalam Syarh Shahih Muslim jilid 9, cetakan Daar Al-Ma’rifah].
Di antara gambaran di atas, bangsa Palestina dan rakyat Gaza, adalah salah satu contoh Muslim terkuat di dunia. Selama 70 tahun lebih dijajah, dikucilkan dunia, diblokade –dari darat, laut, hingga udara—masih berdiri tegar mewakili Muslim se-dunia, mempertahankan Masjid Al-Aqsha.
Ribuan bayi lahir, ribuan pemuda dan pemudi terus lahir, mengasah fisik, dan ruhaninya dengan Al-Quran. Dengan iman, mereka tegak menjaga marwah dan kehormatan Muslim sedunia. Sosok Muslim seperti inilah yang paling ditakuti musuh-musuh. {}
Gizi Sehat, Generasi Hebat
Lebih 14 abad, pesan Al-Quran telah menyampaikan agar umat Islam memperhatikan apa-apa yang dimakannya dan apa yang diminum
Setelah Islam dan iman, salah satu nikmat terbesar dari Allah SWT adalah kesehatan. Al-Quran banyak memberikan perhatian besar kepada umat Islam akan pentingnya kesehatan jasmani.
Kandungan gizi dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari akan sangat berpengaruh terhadap daya imunitas tubuh dan gerakan kita. Oleh sebab itu, persoalan gizi tidak boleh disepelekan dan dianggap remeh.
Sebelum ilmu gizi berkembang seperti sekarang ini, Al-Quran dan Baginda Nabi kita ﷺ sangat menjaga kebiasaan-kebiasaan menyehatkan, termasuk makanan.
Dalam Al-Quran Surat Al-Anbiya, ditemukan perintah agar manusia memperhatikan apa yang dimakan, dan memilih makanan yang baik dan bergizi.
“Dan Kami tidak menjadikan mereka (rasul-rasul) suatu tubuh yang tidak memakan makanan dan mereka tidak (pula) hidup kekal.” (QS: Al-Anbiya’:8)
Menjaga pola makan
Al-Quran sangat perhatian agar umat Islam menjaga pola makan dan gizi. Menjaga pola makan, merupakan bagian dari gaya hidup sehat yang dianjurkan kaum Mukmin.
Dalam Surat Al-Maidah ayat 88, dijelaskan, “dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”
Dalam surat lain disebutkan anjuran makan dan minum yang baik. “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Dalam QS: Abasa: 24, Allah Swt berfirman yang artinya; “…Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya..” (QS: Abasa: 24)
Al-Quran melarang umat Islam makan dan minum berlebih-lebihan. Yang hal ini bisa dipahami bagian dari perintah mengatur pola makan dan diet.
Dalam Al-Quran Surat Al-A’raf: 31, Allah berfirman yang artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Rasulullah sendiri dalam sebuah hadits nya berpesan agar makan dan minum secukupnya, tidak berlebihan: “Tidaklah anak cucu Adam mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang rusuknya. Namun, jika ia harus melakukannya (makan banyak), maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi).
Tidak cukup bergizi, tapi Islam juga memerintahkan umatnya memperoleh makanan dari cara yang baik. “… Makanlah dari apa yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS: Al-Baqarah:172) “Makanlah dari apa yang halal dan baik di bumi.” (QS: Al-Baqarah:168).
Menjaga waktu tidur
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan para sahabatnya tidak beraktivitas setelah shalat Isya, kalau istilah kita sekarang mungkin disebut begadang.
“Seseorang tidak boleh tidur sebelum shalat malam, dan tidak berdiskusi setelahnya,”, sambil menyerukan semua orang untuk tidur lebih awal. (HR: Abu Dawud)
Dengan menjaga pola tidur yang baik diharapkan umat Islam bisa bangun sholat malam (qiyamul lail), dilanjutkan sholat Sunnah Fajar dan sholat Subuh. Nabi ﷺ bahkan tidak tidur setelah shalat Subuh, dan menganjurkan agar segera menyongsong rizki di pagi hari, itu semua bagian dari Sunnah, yang sesungguhnya bermanfaat bagi kesehatan manusia sendiri. {}