Dakwah bukan sekadar mengajar, tapi hadir dan merangkul dengan hati. Di balik senyum anak-anak Lauje, tersimpan harapan akan cahaya ilahi
“Ustadz kenapa?” tanya salah satu anak saat melihat wajah Ustadz Junaedi berubah muram.
Anak-anak lain yang saat itu sedang antri mengaji Iqro’ ikut khawatir. Rupanya Junaedi sedang menyembunyikan rasa sakit karena ingin buang air besar yang melilit perutnya.
“Ustadz ke belakang saja dulu,” celoteh seorang anak yang tahu keadaan Junaedi.
Istila “ke belakang” di tempat ini bukan merujuk pada toilet seperti pada umumnya. Tetapi ke kebun atau hutan yang jauh.
Toilet ataupun fasilitas MCK di kampung ini adalah fasilitas mahal. Masyarakatnya masih terbiasa buang hajat di kebun atau tengah hutan.
Itulah sebabnya, Junaedi lebih memilih menahan sakit dan terus mengajar mengaji.
“Karena tidak terbiasa, susah air, dan khawatir baju untuk shalat terkena najis. Toh, yang antri (mengaji) tinggal sedikit lagi,” ujar Junaedi terkekeh.

Berobat dengan Potong Ayam
Begitulah salah romantika dakwah di kampung terpencil. Tepatnya di Dusun IV Bukit Jaya, Desa Tomini Barat, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Wilayah ini menjadi tempat tinggal Suku Lauje.
Ada sekitar 100 kepala keluarga yang mendiami kampung itu. Sebagian mereka sudah mualaf dan menjadi binaan Ustadz Junaedi.
Suku Lauje adalah suku asli yang mendiami daerah pegunungan di wilayah Sulawesi Tengah.
Masyarakatnya memiliki ciri-ciri budaya dan adat yang khas. Mereka adalah salah satu kelompok etnis yang sebagian besar masih menjalani gaya hidup tradisional.
Mata pencahariannya berladang. Yang mereka tanam utamanya padi dan jagung.
Mereka juga menanam sayur-mayur, cengkeh, bawang putih, singkong, ubi jalar, pisang, papaya, dan mangga.
Awalnya, Suku Lauje –khususnya di Parigi Moutong— berladang secara tak menetap alias nomaden. Namun sejak era 1980-an, pola seperti itu perlahan-lahan berubah.
Mereka mulai mengenal tanaman jangka menengah dan panjang, seperti cengkeh, kakao, dan kelapa.
Sebagian warga Suku Lauje berkeyakinan animisme. Mereka mempercayai hal-hal berbau mistis.
Salah satu contoh yang disebutkan Junaedi, jika seseorang sakit, daripada pergi ke dokter atau minum obat, mereka lebih suka melakukan ritual-ritual mistis. Misalnya mengorbankan hewan seperti ayam hitam.
Untuk menuju lokasi dakwah, Junaedi dari kediamannya di Pesantren Hidayatullah Tomini harus menempuh jarak sekitar 10 kilometer.
Jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Tetapi meskipun harus bolak-balik, tetap harus dijalani tanpa henti.
Junaedi terus terbayang warga yang kebanyakan mualaf itu harus senantiasa dibina. Sebab sebagian mereka masih belum sepenuhnya meninggalkan kepercayaan-kepercayaan yang tak sesuai dengan prinsip syariat.
Pendekatan dan Perubahan
Sebelum di Tomini, Ustadz Junaedi sudah pernah berpengalaman berdakwah selama 4 tahun di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Kemudian tahun 2016 dapat amanah untuk merintis Pesantren Hidayatullah di Tomini, hingga saat ini.
“Pendekatan awal yang kami lakukan adalah dengan bersilaturahmi, membaur dan melakukan bakti sosial yang melibatkan mereka. Di situ kami bisa bercengkerama dan memberi nasihat kebaikan,” terang pria kelahiran Pandeglang, Banten itu.
Awalnya terkendala masalah bahasa. Namun lama-lama Junaedi mampu belajar dan menyesuaikan diri.
“Sebagian dari mereka hanya bisa menuturkan bahasa asli dan tidak bisa berbahasa Indonesia,” terang suami dari Putri Ayu tersebut.
Setelah akrab dengan masyarakat, Junaedi dan tim kemudian membuka pengajian dan Rumah Qur’an.
“Untuk pengajian, kami kenalkan dasar-dasar agama, dari mulai thaharah (bersuci) hingga nasihat-nasihat tentang kebesaran Allah SWT. Sedangkan untuk generasi dini, kami kenalkan huruf-huruf al-Qur’an,” papar pria kelahiran 16 Juli 1987 itu.
Aktivitas dakwah dipusatkan di Pesantren Hidayatullah Tomini. Selain itu, Junaedi juga keliling ke beberapa desa yang ditinggali suku Lauje.
Alhamdulillah, warga terus belajar agama dan perlahan-lahan meninggalkan keyakinan lamanya. Proses ini tentu memerlukan waktu, tak bisa instan.
Namun Junaedi bahagia sebab warga selalu antusias dan menyambutnya dengan senyum terikhlas.
“Saya bersyukur, kedatangan kami sangat disambut dan dinanti-nanti. Bahkan setiap kami datang, ada seorang nenek yang menyambut kami dengan pelukan,” ceritanya.
Contoh sambutan hangat disampaikan oleh Tafrin, Kepala Dusun IV Bukit Jaya. Ia mengaku senang mendapatkan pembinaan.
“Alhamdulillah ada pembinaan. Ini yang kami harapkan. Banyak masyarakat yang belum tersentuh dengan pemahaman Islam yang baik, contohnya saya ini,” akunya.
Tafrin akhirnya menyadari bahwa ada berbagai ritual mistis yang diajarkan orangtua mereka dulu, ternyata jauh dari tuntunan syariat. Padahal kini ia telah beragama Islam.
“Alhamdulillah, setelah dipahamkan Ustadz Junaedi, sudah beberapa tahun ini saya tinggalkan,” ujarnya.
Melihat perubahan positif masyarakat semacam itu, Junaedi makin bersemangat. Ia pun bertekad untuk terus memperluas area jangkauan dakwah.
Langkah dakwahnya semakin mantap setelah mendapat dukungan dari BMH dan YBM BRILiaN. Yakni berupa kafalah dan operasional dakwah yang sangat membantu misi sucinya.
“Alhamdulillah, dengan adanya bantuan ini, dakwah semakin intens. Ini sangat dibutuhkan di lokasi dakwah,” tutupnya.*/Srj