Menanamkan Idealisme yang Tinggi

“Aku belum pernah melihat lelaki yang paling loyo, kecuali lelaki yang kehilangan semangat”

Oleh: Dr. Nashirul Haq, LC, MA

Cita-cita merupakan harapan yang ingin diraih setiap orang. Karena itu, semangat dan kerja keras harus dicurahkan demi mewujudkannya. 

Idealisme tanpa semangat yang tinggi hanyalah khayalan. Jika seseorang tidak memiliki visi kehidupan, maka hidupnya terasa hambar dan tanpa arah.

Rasulullah ﷺ sebagai pendidik terbaik, menanamkan pada sahabatnya himmah—kemauan kuat dan cita-cita tinggi—serta melarang mereka memiliki cita-cita yang rendah. Beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai perkara-perkara yang luhur dan membenci perkara-perkara yang rendah.” (HR. Thabrani).

Ketika paman Nabi memintanya menghentikan dakwah Islam karena tekanan Quraisy, beliau menjawab: “Wahai Paman! Demi Allah, walau matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.” (Ibnu Hisyam, As Sirah an Nabawiyah, 1/266).

Baginda Nabi pernah ditanya mengapa beliau shalat hingga kakinya bengkak, padahal dosanya telah diampuni, beliau menjawab:  “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari)

Al-Mutanabbi pernah menulis syair yang relevan: “Apabila seseorang berjiwa besar, tubuh akan lelah mencapainya.”

Cita-cita tinggi juga tercermin dari anjuran Rasulullah ﷺ untuk meminta surga Firdaus saat berdoa: “Jika kalian meminta surga, mintalah surga Firdaus, karena ia surga tertinggi.” (HR. Bukhari)

Karenanya Rasulullah ﷺ membagi manusia menjadi empat golongan berdasarkan idealisme dan semangatnya: Pertama, yang memiliki ilmu dan harta, menggunakannya untuk taat kepada Allah.

Kedua, yang memiliki ilmu tapi tidak harta, namun berniat melakukan kebaikan jika punya harta. Ketiga, yang memiliki harta tapi tidak ilmu, sehingga harta disalahgunakan.

Keempat, yang tidak memiliki ilmu dan harta, namun berniat melakukan keburukan seperti si kaya yang buruk, maka ia berdosa sama. (HR. Tirmidzi)

Umar bin Khattab r.a. berkata: “Janganlah kamu mengecilkan semangatmu, karena aku belum pernah melihat seorang lelaki yang paling loyo, kecuali lelaki yang kehilangan semangat.” (‘Uwaidhah, Fashl al Khithab, 7/298). 

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau ingin terus berjuang dan mati syahid berulang kali di jalan Allah (HR. Bukhari). Ini menegaskan betapa tinggi cita-cita beliau dalam membela agama.

Para Sahabat juga menunjukkan idealisme tinggi. Mereka giat dalam ilmu, dakwah, jihad, dan doa. 

Dalam satu kisah, ketika Rasulullah ﷺ menyebut bahwa akan ada 70.000 orang masuk surga tanpa hisab, Ukasyah langsung meminta agar didoakan termasuk golongan itu, dan doanya dikabulkan. Laki-laki lain yang meminta hal sama justru dijawab: “Engkau telah didahului Ukasyah.” (HR. Bukhari)

Demikian pula Rabi’ah bin Ka’ab yang ketika ditanya oleh Rasulullah ﷺ tentang permintaan yang diinginkannya, ia menjawab: “Aku ingin bersamamu di surga.” Dan Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:
“Bantulah aku mewujudkan permintaanmu dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim).

Kisah-kisah ini menunjukkan betapa tingginya semangat juang Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. 

Umat Islam hari ini, terutama para pendidik dan murabbi, patut meneladani semangat dan idealisme itu, serta menanamkannya kepada generasi penerus agar kelak mampu membangun kembali peradaban Islam yang gemilang. Wallahu Ta’ala A’lam.*