Indonesia Krisis Adab?

Indonesia punya waktu 20 tahun untuk mempersiapkan generasi yang akan memimpin berbagai bidang, termasuk jadi insan beradab

Zaharman (58), tak menyangka mengalami musibah berat.  Bola mata guru yang bertugas mengajar di SMAN 7 Rejang Lebong, Bengkulu terpaksa rusak akibat penganiayaan yang menimpanya. 

Mata Zaharman rusak setelah Arpanjaya (45), orang tua murid mengetapel matanya karena tidak terima anaknya ditegur setelah ketahuan merokok di lingkungan sekolah.

Kasus lain terjadi di Lamongan, Jawa Timur tahun 2023. Seorang siswa SMP bernama M (14), menganiaya gurunya sendiri Wiwik Ustrini (49) menggunakan golok karena tak terima ditegur saat tak memakai sepatu dalam kelas. 

Pelaku membawa senjata tajam jenis golok bendo yang diayunkan ke arah korban hingga mengenai jari tangan kiri.

Sebelumnya, 2 orang santri inisial di sebuah pondok pesantren di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) tega mengeroyok AE (43) guru pesantren tempat mereka menimba ilmu. Penyebabnya, AA dan HR tidak terima karena HP miliknya disita oleh korban saat belajar.

***

Kejadian demi kejadian memilukan yang menghiasi pendidikan di Indonesia terus bertambah dari hari ke hari. Menurut Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI), pada Januari-September 2024 terjadi 36 kasus kekerasan di satuan pendidikan. 

Sementara menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), hingga September 2024 terjadi 293 kasus kekerasan di sekolah. 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), mencatat, tahun 2024 terjadi 763 kasus kekerasan di satuan pendidikan. 

Penyebabnya macam-macam;  ada kesenjangan sosial, kemiskinan ekstrem, peminggiran sosial, penegakan aturan yang tidak konsisten, hingga pengaruh media.

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati Solihah dengan fenomena ini, harapan dan cita-cita mewujudkan “Generasi Indonesia Emas 2045”,  nampaknya akan mengalami tantangan. 

Faktanya, proses pelaksanaan pendidikan mengalami krisis. Entah kasus kekerasan, pemerkosaan, pergaulan bebas, tawuran antar pelajar, dan menjamurnya geng motor dalam lembaga pendidikan, atau pelecehan pada siswa menjadi kabar duka bagi pendidikan di Indonesia. 

Padahal Sistem pendidikan nasional di Indonesia telah memberikan arah dan tujuan yang jelas, bahwa proses pendidikan “untuk menjadikan manusia beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak mulia dan beradab, berilmu, mandiri serta bertanggung jawab.” (Lihat: UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 3).

Sebelumnya, berdasarkan pada pengawasan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap berbagai kasus kekerasan seksual di dunia pendidikan sepanjang Januari-Juni 2019, sekolah justru menjadi tempat tidak aman bagi anak didik. 

Kekerasan pada guru, kekerasan guru pada murid, pada kedua orang tua, maraknya perundungan dan maraknya korupsi di segala bidang yang sungguh memprihatinkan.

Adab Dulu, Baru Ilmu 

Menurut Dr Adian Husaini, pendiri PP Attaqwa Colledge (ATCO), Depok Jawa barat, tantangan terbesar umat Islam hari ini adalah tantangan ilmu. Menurutnya, umat Islam dalam keadaan seperti ini karena ilmu yang dipelajari salah.

“Ilmu yang dipelajari membuat umat Islam tidak tahu menempatkan sesuatu pada tempatnya, yang menyebabkan kerancuan,” ujarnya.

Menurutnya, semua akar masalahnya adalah hilangnya adab (loss of adab). Hilangnya adab menjadikan hilangnya disiplin (loss of discipline). Hal ini berdampak pada masalah sosial, ekonomi, politik, dan pemikiran.

Begitu intens mencermati masalah ini, pria yang kini diamanahi menjadi Ketua DDII ini bahkan sempat membuat dua buku bertema penanaman adab dan keadilan dalam pendidikan; “Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab” dan buku “Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara 2045.”

Buku ini diambil dari hasil meneliti puluhan disertasi mahasiswa S3 tentang pendidikan berbasis adab. “Saya menarik kesimpulan bahwa pendidikan Islam yang ideal memiliki tiga prinsip utama,” ujarnya.

Pertama, mendahulukan adab sebelum ilmu. Kedua, mengutamakan ilmu fardhu ‘ain (ilmu agama yang wajib diketahui seorang Muslim). Dan Ketiga, memilih secara tepat ilmu fardhu kifayah sesuai potensi diri dan kebutuhan masyarakat.

“Jika konsep pendidikan Islam diterapkan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dalam Surat Luqman ayat 12-19, maka model pendidikan ini sudah mapan,” ujarnya.

Menurutnya, jika kita ingin menyongsong kebangkitan Islam 2045, Indonesia harus memperbaiki sistem pendidikan dengan mengedepankan adab.

Sebab menurutnya, menargetkan Indonesia sebagai negara maju 2045 dengan income per kapita 27 juta per bulan, harusnya ukurannya tidka hanya dari aspek material.

Ia bahkan mengusulkan, jika pendidikan tinggi ingin benar-benar melahirkan pemimpin yang baik, maka tes masuk perguruan tinggi tidak hanya soal akademik, tetapi juga tes adab dan akhlak.

“UGM, ITB, UI, dan universitas lainnya harus menjadi seperti pondok pesantren. Dosen dan rektor tinggal di kampus, mahasiswa pun hidup di lingkungan yang membangun adab dan karakter,” ujarnya.

Indonesia, menurut Adian, punya waktu 25 tahun ke depan untuk mempersiapkan generasi yang akan memimpin di berbagai bidang. Kita harus menjadi generasi yang beradab dan membawa manfaat bagi umat, sebagaimana pesan Rasulullah bersabda “Khairunnas anfa’uhum linnas” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama)

Jadi, jika kita ingin kebangkitan umat Islam 2045, kita harus kembali kepada pendidikan berbasis adab.

Sementara itu, Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof Dr Hamid Fahmi Zakarsy juga mengingatkan, agar lembaga pendidikan –khususnya perguruan tinggi— tidak semata mendidik siswa hanya mencari duit.

“Problem utama bangsa ini adalah problem ilmu pengetahuan. Untuk apa Anda mencari ilmu kalau ilmu hanya untuk mencari duit? Dampaknya Anda akan menggunakan ilmu itu untuk segala macam tujuan yang tidak sesuai dengan adab,” ujarnya di kanal YouTube Unida.

Saat ini banyak orang tua meniatkan menyekolahkan anak ke fakultas kedokteran supaya menjadi dokter dan menjadi kaya, menyekolahkan anak jadi insinyur supaya lebih mudah dapat proyek pemerintah. 

“Tapi tidak terpikir ketika ia mengerjakan proyek pemerintah itu, anaknya itu nanti korupsi atau tidak. Tidak terpikir sama sekali,” ujar guru besar bida filsafat Islam ini.

Menurutnya, salah tujuan dan niat mencari ilmu akan melahirkan perilaku yang salah. “Mencari ilmu (semata) tujuan materi, jelas salah. Itulah yang disebut dengan loss of adab, itu ilmu tanpa akhlak,” ujarnya.

Sementara adad sendiri, berbeda dengan karakter dan sopan santun. “Adab itu kombinasi dari iman, ilmu, dan amal. Kalau ilmu kita ini tidak menambah dan mengantarkan pada keimanan, berarti ilmu kita ini salah,” ujarnya.

“Man istadada ilman walam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu’dan” (Siapa yang tambah ilmunya tapi tidak tambah petunjuknya atau imannya, dia akan tambah jauh dari Tuhannya), katanya mengutip sebuah atsar.

Pendidikan yang baik, menurutnya, harus melahirkan seorang pemimpin, manajer, sekaligur ulama, atau menjamin kepada kesempurnaan jiwa dan kepribadian. “Dalam bahasa Indonesia adalah menjadi manusia seutuhnya atau insan kamil,” ujarnya.[]

Jendela 2 (Boks):

Inilah Adab para Ulama terhadap Gurunya

Begitu hormatnya Imam Syafi’i  pada gurunya, Imam Malik, sampai tidak berani membuka lembaran kitab di hadapan gurunya karena takut bersuara berisik 

Pada ulama telah mengenalkan adab, sebuah khasanah Islam yang begitu mulia yang tak dimiliki agama lain. Inilah beberapa kisah adab pada ulama terhadap guru-guru mereka;

Imam Syafi’i (w. 204 H) adalah murid dari Imam Malik (w. 179 H). Beliau sangat menghormati gurunya, bahkan tidak berani membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik dengan kasar.

Imam Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah melihat Imam Syafi’i membuka kitab di hadapan Imam Malik kecuali dengan sangat lembut dan penuh penghormatan, seakan-akan beliau membalik lembaran dari sutra, karena segan kepada Imam Malik.”  (Ibnu Abi Hatim, Adab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, hlm. 52).

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) memiliki adab yang luar biasa dalam menuntut ilmu. Ketika mendengar hadits dari gurunya, beliau tidak pernah menulisnya dalam keadaan bersandar atau dalam posisi santai.

Al-Khathib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad: “Aku melihat ayahku (Imam Ahmad) ketika menulis hadits, tidak pernah bersandar dan selalu duduk dengan penuh penghormatan kepada ilmu dan gurunya.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi, 1/117).

Abdullah bin Abbas (w. 68 H), sahabat Rasulullah ﷺ dan ulama besar di kalangan tabi’in, sangat menghormati gurunya, Zaid bin Tsabit. Beliau pernah membantu memasangkan sandal Zaid sebagai bentuk penghormatan.

Imam Al-Ghazali (w. 505 H) dikenal sangat menghormati guru-gurunya. Ia bahkan menulis dalam kitabnya mengenai pentingnya adab terhadap guru.

“Seorang murid harus menganggap gurunya sebagai orang tua dalam agamanya, dan ia harus merendahkan diri di hadapannya serta bersikap sopan dan hormat.”
— (Ihya Ulumuddin, 1/49).

Imam Nawawi (w. 676 H) tidak pernah duduk dengan santai di hadapan guru-gurunya. Beliau selalu duduk dengan penuh adab dan kesopanan. Bahkan, dalam keadaan sangat lelah sekalipun, beliau tidak pernah bersandar di hadapan gurunya.

Ibnu Al-‘Attar dalam Tuhfatuth Thalibin menyebutkan: “Imam Nawawi tidak pernah makan di hadapan gurunya, tidak pernah berbaring di hadapan mereka, dan selalu dalam keadaan penuh adab serta tawadhu’.”

Imam Abu Hanifah (w. 150 H) sangat menghormati gurunya, Hammad bin Abi Sulaiman. Diriwayatkan bahwa selama bertahun-tahun, beliau tidak pernah membentangkan kakinya ke arah rumah gurunya, meskipun rumah tersebut berada di kejauhan.

Semoga kita bisa meneladani mereka dalam menghormati para guru dan ulama dalam menjaga adab dalam hal sekecil apa pun. []