Cinta, kesabaran, dan kesetiaan pada suami ditunjukkan Hamnah kepada suaminya, Mushab bin Umair, duta Islam pertama di Madinah
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat bahwa tingkat perceraian di tiga tahun terakhir melonjak dan tingkat pernikahan menurun hingga dua juta pasangan.
Salah satu penyebab perceraian adalah khulu’ atau permohonan cerai yang diajukan oleh istri. Sedangkan keengganan wanita menikah karena merasa mandiri.
***
Pernikahan bukanlah sekadar ikatan perkawinan untuk mewujudkan perasaan cinta pada seseorang. Pernikahan merupakan ikatan suci yang disandingkan dengan ikatan janji para Nabi (mitsaq ghalizh).
Ikatan yang tidak menjanjikan kenyamanan selamanya, tidak selalu bertabur wewangi bunga, tapi juga dihiasi kerikil tajam, bahkan terjangan angin dan badai.
Manusia –apalagi wanita— adalah makhluk yang lebih sering bertindak berdasarkan perasaannya. Terjadinya khulu’ –baik karena faktor ekonomi atau karena merasa sudah tak lagi cinta— bisa jadi karena tindakan spontan mengikuti perasaan dan hawa nafsu sesaat. tanpa pikir panjang.
Tindakan yang terlahir dari ketergesaan dan ketidakpuasan batin ini akhirnya merusak keutuhan rumah tangga dan juga tujuan mulia, mewujudkan peradaban manusia dan mendidik generasi penerus peradaban.
Kisah Cinta Sahabat Mushab
Sebuah bangunan cinta dengan tujuan mulia pernah dicontohkan pasangan suami istri, Mush’ab bin Umair dan Hamnah bint Jahsy.
Pasangan sahabat dan sahabiyah Rasulullah Muhammad ﷺyang terlahir dari nasab mulia Suku Quraisy, Bani Abd Dar dan Bani Asad.
Kemuliaan karena iman lebih mereka pilih daripada nasab dan harta. Mush’ab bin Umair rela meninggalkan keluarganya di Makkah dan berhijrah ke Madinah menanggalkan status kehormatan dan limpahan harta.
Beliau menjadi duta Islam pertama Rasulullah ﷺ yang menyebarkan dan mengajarkan Islam di Madinah (dulu namanya Yatsrib).
Hamnah, istri Mush’ab, yang juga sepupu Rasulullah ﷺ dari bibi beliau, Umaimah bint Abdul Muthalib, menunjukkan kesetiaan mendampingi suaminya di tanah hijrah.
Hamnah terjun langsung bersama suaminya mengajarkan kitabullah kepada kaum Anshar, ia rela mendampingi Mush’ab dalam kesederhanaan, bahkan kekurangan.
Berbeda saat di Makkah, di Madinah ia hidup apa adanya. Hingga suatu hari, Rasulullah menangis melihatnya datang ke masjid mengenakan pakaian pendek lusuh dan kasar.
Kesetiaan Hamnah mengikuti jalan kehidupan yang dipilih oleh suaminya tidak cukup dengan hanya memberikan dukungan, tetapi dia juga ikut mengambil peran dari setiap amanah yang dibebankan kepada suaminya.
Hamnah ikut barisan belakang pasukan perang, bertugas merawat tentara yang terluka, menyediakan kebutuhan pasukan, sebagaimana dia lakukan di Perang Uhud, saat suaminya memegang bendera perang.
Di Perang Uhud inilah, Hamnah mendapatkan duka mendalam, namun ia berlapang dadanya dan menerimanya dengan sabar.
Kesabaran Hamnah terlihat dari doa yang dia sampaikan saat mendapatkan kabar kesyahidan pamannya, Hamzah dan saudaranya, Abdullah. Hamnah hanya beristirja’ dan mengucapkan sebuah doa, “kebahagiaan baginya atas kesyahidan yang didapatkan, semoga Allah mengampuninya.”
Cinta, kesabaran, dan kesetiaan pada suami ditunjukkan Hamnah dengan gambaran kesedihan di hadapan Rasulullah ketika datang kabar bahwa suaminya syahid di Perang Uhud.
“Waa hazanaah betapa sedihnya!” berbeda dengan apa yang dia katakan saat mendapatkan kabar kesyahidan Hamzah dan Abdullah.
Maka spontan Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh suaminya menempati bilik khusus di hati perempuan ini, tidak untuk selainnya,” ujar Baginda.*