Alumni madrasah Ramadhan seharusnya terus memelihara kesalehan sosial dan kesalehan individu
Ramadhan, telah berlalu. Selama sebulan penuh, umat Muslim menjalani puasa sebagai bentuk ibadah dan meningkatkan kualitas spiritual mereka.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang mengendalikan nafsu dan meningkatkan hubungan dengan Allah SWT.
Berakhirnya Ramadhan, ditandai hari raya Idul Fitri di bulan Syawal.
Bulan ini kita dianjurkan bertakbir, bertahmid, memuji keagungan Allah SWT, sebagai tanda syukur atas kemenangan ini. Firman Allah SWT: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (Puasa Ramadhan, red) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS: Al-Baqarah: 185)
Berdasarkan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa Idul Fitri hendaknya juga diiringi dengan rasa syukur dan kegembiraan bagi umat Islam karena telah kembali ke fitrahnya setelah sebulan penuh berpuasa untuk menyucikan diri dari segala dosa dan keburukan.
Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan maksud berhari raya yang sebenarnya;
“Idul Fitri bukanlah untuk orang-orang yang memamerkan pakaian dan kendaraannya, namun hakikat Idul Fitri adalah untuk orang-orang yang diampuni dosanya pada malam Idul Fitri.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lata’if al-Ma’arif, 277)
Bahkan bagi sebagian golongan seperti para sahabat, salafus sholeh dan ulama, kendatipun mereka merayakan kegembiraan hari raya Idul Fitri, namun tetap saja ada perasaan khawatir dan takut dalam diri mereka bahwa amal yang telah mereka kerjakan tidak diterima dan tidak mendapat ampunan dari Allah SWT.
Karenanya setelah melewati bulan Ramadhan, mereka masih terus berdoa kepada Allah SWT agar diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan tahun mendatang .
Hal ini wajar, sebab tantangan sebenarnya justeru usai berakhirnya bulan Ramadhan, dimana jalan-jalan kemaksiatan kembali terbuka lebar.
Karena itulah dikisahkan, bahwa bagaimana ulama Imam Hasan Al-Bashri setiap hari Senin dan Kamis sore beliau selalu menangis. Apa yang beliau tangisi?
Rupanya beliau menangis memikirkan apakah amalnya selama ini diterima Allah Ta’ala, karena Senin dan Kamis adalah hari di mana Malaikat melaporkan amal-amal kita kepada Allah Ta’ala.
Jika ulama sekelas Imam Hasan Al-Bashri saja khawatir terhadap amalnya, bagaimana kita? Apakah amal ibadah Ramadhan kita pasti diterima?
Karena itulah, di bulan Syawal ini kita perlu melanjutkan tradisi kebalikan di bulan Ramadhan.
Praktik ‘Sekolah Ramadhan’
Jika Ramadhan sering diibaratkan madrasah atau sekolah, maka, bulan Syawal dan bulan-bulan selanjutnya, adalah bentuk praktiknya di lapangan, untuk membuktikan bahwa ilmu yang telah kita dapati saat ‘sekolah Ramadhan’ sebulan penuh bisa diaplikasikan.
Syawal dan 11 bulan lain menjadi awal permulaan umat muslim untuk selalu meningkatkan kualitas serta kuantitas dari ibadah.
Oleh karena itu, setelah datangnya bulan Syawal, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan sunnah; seperti banyak berdzikir, menggalakkan sholat fardhu dan shalat-shalat sunnah, menggalakkan infaq dan sedekah, dan tetap istiqomah dalam beribadah dan amal sholeh lain.
Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya; “Lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian, karena sebaik-baiknya amalan adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).
Artinya, menjaga perbuatan baik secara terus-menerus meskipun sedikit, lebih bernilai oleh Allah daripada melakukan banyak amalan tetapi tidak konsisten.*
Jendela Utama 2
Inilah Profil Alumni Ramadhan
Ciri alumni Ramadhan adalah mereka yang tidak puas diri dan terus memperbaiki ibadah agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya
Ada istilah menarik dari pendakwah Ustad Abu Basam Oemar Mita, Founder Syameela, bahwa setiap umat Islam yang telah menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh adalah ‘para alumni Ramadhan’.
Ya, selama bulan Ramadhan kita diberikan kemudahan dengan suasana yang mendukung untuk lebih fokus dalam beribadah, karena semua orang berlomba-lomba dalam kebaikan.
Para alumni Ramadhan adalah mereka yang tidak puas diri sebulan penuh selama Ramadhan. Mereka memanfaatkan bulan Syawal dan 10 bulan berikutnya untuk berdoa, beribadah agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan.
Di bawah ini ciri-ciri para ‘alumni madrasah Ramadhan’ yang dirangkum dari berbagai sumber;
Puasa 6 hari dan Puasa Sunnah
Setiap muslim berusaha untuk menunaikan amalan yang satu ini yaitu berpuasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa.
Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah ﷺ dari Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).
Setelah puasa 6 hari, bulan syawal dan bulan-bulan lain harus memperbanyak puasa sunnah.
Menderas Al-Quran
Ibadah selanjutnya adalah melanjutkan tradisi menderas Al-Quran. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺbersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).
Menutup Aurat
Di antara tradisi baik bulan Ramadhan adalah ketika banyak Muslimah menutupi auratnya. Termasuk para selebriti yang sering muncul di TV. Diharapkan tradisi mulia ini tetap terpelihara selepas Ramadhan berlalu.
Perintah menutup aurat ini adalah perintah Allah dalam Al Qur’an dan wajib hukumnya bagi setiap Muslimah. Allah berfirman yang artinya: ”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (QS: Al Ahzab 59).
Menjaga Shalat Jamaah dan Qiyamul Lail
Bulan Ramadhan sungguh sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang biasanya malas ke masjid atau sering bolong mengerjakan shalat lima waktu, di bulan Ramadhan begitu bersemangat melaksanakan shalat berjamaah.
Hendaklah shalat berjama’ah di masjid di awal waktu ini tetap dipertahankan, khusus untuk kaum pria.
Dari Abu Hurairah di mana beliau radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki buta mendatangi Nabi ﷺ, lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki orang yang menuntunku ke masjid’.Kemudian pria ini meminta pada Rasulullah ﷺ agar diberi keringanan untuk shalat di rumah. Pada mulanya Nabi ﷺ memberi dia keringanan.Namun, tatkala dia mau berpaling, beliau ﷺ memanggil pria tersebut dan berkata, ‘Apakah engkau mendengar adzan ketika shalat?’ Pria buta tersebut menjawab, ‘Iya.’ Lalu beliau ﷺ bersabda, ‘Penuhilah panggilan tersebut’.” (HR. Muslim no. 653).
Selain shalat jamaah fardhu, tradisi kebaikan yang harus dipelihara adalah shalat shalat malam (qiyamul lail), harus diteruskan pada bulan syawal dan bulan-bulan lain.
Bersedekah
Amalan bulan Syawal berikutnya adalah bertafakur dengan hal yang positif supaya inspirasi serta keberkahan hidup bisa ditemukan.
Selain itu, alangkah lebih baik jika bersedekah tidak hanya dilakukan dengan harta, kekuasaan serta ilmu saja, namun juga berkorban dan bersedekah kapan pun sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Engkau bersedekah dalam keadaan sehat, amat membutuhkannya, khawatir miskin, dan berangan-angan menjadi kaya. janganlah menunda-nunda (sedekah) sehingga jika ajal telah sampai ke kerongkongan engkau berkata, ‘untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian.’ padahal memang harta itu untuk si fulan.”
Bulan syawal juga bulan silaturahmi, membuat bulan ini sangat baik untuk melakukan halal bi halal seperti dengan mengundang anak yatim dan juga fakir miskin lalu makan bersama serta digelar juga doa serta dzikir berjamaah sekaligus ceramah khidmat.
Istiqomah dengan Kesalehan Sosial
Di antara kesalehan sosial yang harus dipelihara adalah berbuat baik kepada sesama, khususnya pada kedua orang tua.
Berbuat baik kepada kedua orang tua, prioritas yang paling utama setelah beriman dan beribadah kepada Allah Swt dan merupakan kunci sukses yang paling menentukan dalam kehidupan manusia.
Sebagaimana Surat Al-Isra’ ayat 23 dan 24: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Surat Al-Isra’ ayat 23 dan 24).
Setelah kedua orang tua kita, adalah berbuat baik pada kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dan orang lain.
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Surat An-Nisa ayat 36). []