Be Your Self

Islam telah memberikan aturan yang memuliakan perempuan agar ia menjadi dirinya sendiri  memberikannya hak memilih jalan terbaik dunia dan akhirat

Oleh: Sarah Zakiyah

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.”

Globalisasi tidak hanya tercermin dari integrasi ekonomi global ataupun liberalisasi ekonomi dan perdagangan, tapi juga pada intensifnya penyebaran budaya, nilai, makna, dan ide secara global. 

Fenomena ini mengakibatkan munculnya berbagai isu terkait perempuan, yang mendestruksi konsep dan tradisi terkait perempuan yang telah terbangun kokoh dalam peradaban non barat, terutama Islam.

Salah satu konsep tentang perempuan yang perlu dikritisi adalah yang berkaitan dengan tubuh perempuan. ‘My body is mine’ slogan tentang tubuh perempuan yang diusung oleh feminisme dengan dalih untuk melepaskan diri dari arogansi dan patriarki kaum adam. 

Slogan yang katanya memperjuangkan hak asasi perempuan ini, justru berseberangan dari apa yang diperjuangkan. 

Mereka menolak segala bentuk intervensi aturan agama, norma, dan tradisi atas tubuh perempuan. 

Konsep tentang tubuh perempuan yang diusung feminisme ini digaungkan tanpa menoleh pada sejarah, bagaimana Islam datang menyelamatkan harkat dan martabat perempuan dari sebelumnya tertindas dan bernilai rendah pada peradaban lebih mulia. 

Islam telah memberikan pada perempuan hak-hak yang harus diterimanya sebagai manusia, memberikannya kedudukan tinggi sebagai pencetak generasi, dan menetapkan aturan untuk menjaga kemuliaannya di hadapan manusia dengan kewajiban menutup aurat.

Dengan slogan ‘My body is mine’ feminis mengajak wanita menolak ikut campur siapapun, termasuk suami, bapak, dan siapapun atas tubuh perempuan, sampai dalam hal pernikahan dan sebagainya. 

Perempuan berhak mengatur dirinya untuk menikah atau tidak, atau menikah dengan laki-laki ataupun sesama jenisnya, berhak memiliki anak atau tidak, berhak menyakiti dirinya dengan tato, dan berhak menjadikan apapun tubuh mereka. 

Kebebasan ini telah memunculkan masalah kompleks di berbagai lini kehidupan. Hadirnya komunitas LGBT, maraknya kehidupan kumpul kebo, menyebarnya penyakit kelamin yang mengerikan, hingga berkurangnya populasi manusia. 

Kehidupan perempuan yang tidak diatur akan memberi efek kerusakan yang mengerikan bagi peradaban umat manusia.

“Orang bisa saja mengklaim dirinya bebas sehingga mereka tidak dapat mengontrol diri mereka dari kerakusan akan makanan dan perilaku seks menyimpang saat kesempatan itu ada. Namun itu adalah pandangan kebebasan yang tidak bermakna,” ujar Hamzah Yusuf, ulama Amerika Serikat dan pendiri Zaytuna College. 

Islam telah memberikan aturan yang memuliakan perempuan agar perempuan menjadi dirinya sendiri dengan memberikannya hak memilih jalan terbaik baginya di dunia dan akhirat. 

Aturan hadir untuk mengekang nafsu manusia dan membantunya menggunakan semua sarana untuk mendapatkan pengetahuan, dari akal, panca indera, dan intuisinya guna menempuh jalan terbaik bagi mereka di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishawab.*