Memburu Berkah di Bulan Rahmah  

Para Sahabat menghabiskan waktu untuk kebaikan di bulan Ramadhan, Imam Syafi’I bahkan khatam Al-Quran 60 kali di luar pembacaan shalat, bagaimana kita?

Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan Ramadhan, bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Bulan penuh berkah ini memiliki makna dan keistimewaan, mengingat bulan ini Al-Quran diturunkan. 

Ramadhan dianggap sebagai bulan yang penuh berkah karena mengandung malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatul Qadar. 

Di bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Hal ini membuat peluang untuk mendapatkan ampunan, pahala, dan keberkahan menjadi lebih besar. 

Karena keberkahannya, umat Islam diberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Allah SWT dan meraih ampunan-Nya dengan melakukan ibadah, shalat tarawih, tilawah Al-Quran, dan berbagai amal kebaikan lainnya. 

Puasa memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk membersihkan hati,  meningkatkan kesabaran, menumbuhkan rasa empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung.

Ini 5 bekal menyambut Ramadhan sehingga kedatangannya akan memberi kita rahmat dan berkah.  

Penting Memulai Niat  

Niat adalah unsur penting dalam sebuah ibadah. Sah atau tidaknya ibadah bergantung pada sah atau tidaknya niat orang yang melakukan kebaikan tersebut, termasuk puasa Ramadhan.

Menurut Mazhab Syafi’i seseorang yang puasa Ramadhan wajib berniat di malam hari sebelum terbit fajar. 

Madzhab Hanbali dalam masalah waktu niat puasa Ramadhan sama dengan Madzhab Syafi`i, yakni harus dilakukan di malam hari satiap hari bulan Ramadhan. (Al Mughni, 3/109).

Sedangkan menurut Mazhab Maliki, kita cukup niat puasa sekali saja untuk sebulan penuh, dilakukan pada malam pertama Ramadhan.

Namun untuk kehati-hatian, para ulama menggabungkan dua niat. Yakni berniat puasa di malam pertama Ramadhan untuk seluruh puasa Ramadhan (sebulan), bertaklid Imam Malik, dan diiringi niat setiap malam sebelum fajar bertaklid pada Imam Malik. 

Hal ini berjaga-jaga ketika lupa berniat puasa di malam hari, kita tetap sah menurut Imam Malik.

Banyak Berdoa

Ramadhan adalah waktu dimana banyak doa-doa dikabulkan. Rasulullah pernah bersabda:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُههُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِيَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ 

“Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tiga orang yang doa mereka tidak tertolak, yaitu seorang yang berpuasa hingga berbuka, seorang imam (penguasa) yang adil dan doanya orang yang dizalimi. Allah akan mengangkat doanya ke atas awan, dan membukakan baginya pintu-pintu langit, seraya berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski beberapa saat lamanya.” (HR. At-Tirmidzi, no 3522)

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, para ulama bahan telah berdoa enam bulan sebelum datangnya Ramadhan dan enam bulan setelah usai Ramadhan. 

“Adalah dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif)

Banyak Membaca Al-Quran  

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Didalamnya diturunkan Al-Qur’an yang merupakan pedoman bagi semua manusia. Allah SWT berfirman:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”  (QS: Al-Baqarah: 185)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa di tiap tahunnya Jibril AS membacakan al-Qur`an kepada Rasulullah ﷺ. Itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.

Berpedoman dengan Hadits di atas, al-Hafizh Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca al-Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemuliaan bulan itu. (Fath al-Bari, 9/52).

Karena itulah, para salafush-shaleh amat memperhatikan amalan membaca al-Qur`an di bulan yang mulia itu.  

Imam Ibnu Qatadah rahimahullah membaca Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali. Ketika Ramadhan tiba, beliau membaca Al-Qur’an setiap 3 hari sekali. Sementara itu, ketika sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau membaca Al-Qur’an sekali setiap hari. [Lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 5/276]

Imam al-Syafi’i rahimahullah khatam Al-Quran enam puluh kali di bulan Ramadhan di luar pembacaan shalat. [Lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 10/36]

Banyak Sedekah & Memberi Makan

Ramadhan adalah tempat berlimpahnya pahala, terutama pahala bersedekah. Nabi ﷺ pernah bersabda,

أفضل الصدقة صدقة في رمضان

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik).

Hal yang sama berlaku untuk memberi makan dengan menyiapkan makanan berbuka puasa untuk orang lain. 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: Siapa pun yang menyiapkan makanan buka puasa untuk orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa dan tidak mengurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa.” (HR: al-Tirmizi). 

Qiyam

Qiyam yang dimaksud di sini adalah menghidupkan malam di bulan Ramadhan dengan mendekatkan diri pada Allah SWT. Termasuk melakukan amalan sunnah seperti shalat Tarawih berjamaah atau sendirian.  

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad, al-Tirmizi, al-Nasa’I, dan Ibnu Majah). 

Imam Ghazali mengklasifikasikan keutamaan dan derajat puasa menjadi tiga kelompok;

Pertama, shaumul ‘umum, puasanya orang yang sekedar menahan perut dan syahwat. Ini adalah jenis puasanya orang awam. 

Kedua, shaumul khushush (puasa khusus), menjaga pendengaran, penglihatan, ucapan dan panca indera dari perbuatan maksiat. Puasa ini banyak dilakukan para sholihin (orang sholeh). Orang-orang ini menjauhkan apa yang membuat hatinya menjauh dari mengingat Allah SWT. 

Ia menghindari berbohong, mengumpat, mencaci dan mengumpat. Dan mereka selalu memperbanyak dzikir kepada Allah SWT dan membaca Al-Quran.

Ketiga, shaumu khushushil khushush (puasa paling spesial), menjaga hatinya dari mengingat hal-hal duniawi dan betul-betul tidak memikirkan bulan Ramadhan kecuali hanya Allah Swt. Inilah puasa para Nabi, shadiqin dan muqarrabin

Semoga kita semua meraih puasa yang ketiga, minum kedua. Amin. []

Dasyatnya Sedekah di Bulan Mulia (BOKS)

“Rasulullah ﷺ adalah orang paling dermawan di antara manusia, beliau semakin dermawan saat bulan Ramadhan

Pada bulan yang mulia yang penuh berkah dan rahmat ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah kepada sesama manusia. Adapun keutamaan sedekah di bulan Ramadhan ini, sudah banyak dijelaskan dalam hadits Nabi.

Sahabat Anas meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan bersedekah pada bulan Ramadhan.

   عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَا رَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ   

“Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-Tirmidzi). 

Para sahabat adalah saki utama kedermawanan dan kemurahan hati Baginda Rasulullah.  Mereka menyaksikan Rasulullah adalah orang paling pemurah hati di hari-hari biasa. Namun di bulan Ramadhan, kemurahan hati beliau makin berlipat ganda. 

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ 

“Rasulullah adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Tentu Saja sedekah tidak hanya berupa uang. Bisa sedekah tenaga, pikiran, bantuan, bahkan sedekah makanan kepada fakir miskin, anak yatim dan orang yang sedang berpuasa.

Nabi ﷺ bersabda, bahwa sedekah makanan pada orang yang puasa, pahalanya sama dengan orang yang puasa.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Barangsiapa yang memberi makan buka puasa orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR.  Ahmad, An-Nasai) 

Zakat

Selain termasuk rukun Islam yang wajib dikerjakan, zakat fitrah juga menjadi penyempurna puasa Ramadhan. Ibaratnya, semua ibadah puasa di bulan Ramadhan masih tergantung di langit, dan belum diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sampai mengeluarkan kewajiban zakat fitrah,

Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hikmah zakat fithri, sebagaimana tersebut di dalam hadits :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

“Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah ﷺ telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Id), maka itu adalah satu shadaqah dari shadaqah-shadaqah.” (HR: Abu Dawud).

Di antara hikmah zakat fitrah adalah menyantuni golongan yang membutuhkan, memberi makan orang yang kelaparan di hari raya, menyebarkan kegembiraan dan kebahagiaan, serta menyemai kasih sayang sesama umat Islam dan manusia. []