Prosesi Baklava, yang dulunya merupakan bagian penting dari Ramadhan di Istanbul, kini dihidupkan kembali setelah berumur 500 tahun
Kesultanan Usmani (Khilafah Usmaniyyah, orang Barat menyebut Ottoman) dikenal memiliki kekuasaan luas, meluputi Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika Utara. Salah satu ciri penting di era kekuasaanya adalah, menyebarkan tradisi Islam. Sala satunya memeriahkan bulan suci.
Salah satu tradisi yang menarik minat banyak orang kala itu adalah “Prosesi Baklava” oleh Janissari –sebuah pasukan elit kala itu— yang menjadi salah satu hiburan masyarakat.
Baklava adalah sebuah hidangan manis, terdiri dari lapisan-lapisan tipis adonan phyllo atau yufka yang diisi dengan campuran kacang-kacangan cincang (biasanya pistachio, kenari, atau almond) dan rempah-rempah, kemudian dipanggang hingga keemasan dan disiram dengan sirup gula atau madu.
Biasanya, di pertengahan bulan Ramadhan, para Sultan Dinasti Usmani, yang merupakan khalifah seluruh umat Islam seluruh dunia, mengunjungi barang-barang Baginda Nabi Muhammad ﷺ yang disimpan di Istana Top Kapi.
Usai kembali dari Istana, Sultan memerintahkan koki memasak Baklava, lalu dibagikan ke para prajuritnya. Baklava dimasak oleh koki paling terampil di Istana Topkapi.
Ketika Baklava sudah siap, nampan yang dibungkus kain diletakkan di halaman istana, agar semua orang dapat melihatnya. Sultan kemudian memulai membagi nampan Baklava dalam sebuah upacara besar, di mana para prajurit berderet menunggu pembangian nampan, disaksikan masyarakat.
Setelah semua persiapan selesai, Silahtar Ağa, prajurit tertinggi, maju ke depan dan menerima nampan pertama atas nama 10 prajurit, termasuk dirinya, diikuti oleh kepala setiap regu.
Kemudian, para prajurit mengikuti parade dan berbaris menuju barak diiringi oleh kerumunan besar orang. Pasukan Janissari berjalan ke barak mereka sambil menyanyikan lagu-lagu heroik, dengan pedang di pundak dan nampan di atas kepala mereka.
Keesokan harinya nampan kosong dikembalikan ke istana dengan upacara serupa untuk menunjukkan kepada sultan bahwa Baklava itu sangat lezat.
Prosesi Baklava pertama kali muncul pada masa pemerintahan Süleyman. Awalnya, hal ini sebagai motivasi Sultan untuk pasukan Janissari, karena wilayah kesultanan terus bertambah luas.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berubah menjadi prosesi massa, disaksikan seluruh penduduk Kota Istanbul setiap tahun.

“Prosesi Baklava” terakhir dilaksanakan pada tanggal 15 Ramadhan 1241 Hijriah (21 April 1826 Masehi), satu setengah bulan sebelum pembubaran korps Janissari.
Menjelang jatuhnya Khilafah Usmani, tradisi ini memburuk, seiring banyak anggota Janisari terlibat korupi. “Prosesi Baklava” mulai memudar seiring Korp Janisari dibubarkan.
Setelah hampir satu abad lamanya “Prosesi Baklava” hilang, belakangan, Pemerintah Daerah Kota Fatih, Istanbul, menghidupkan kembali, sebagai bagian penting sejarah kota.
Melalui Wali Kota Fatih Mustafa Demir kala itu, tradisi ini dihidupkan kembali di Alun-alun Sultanahmet, setelah selama 500 tahun.
Para aktor dan perwira militer berpakaian seperti tentara Usmani, ikut ambil bagian dalam prosesi tersebut. Sebanyak 20.000 kotak Baklava dibagikan kepada warga Istanbul dan wisatawan di halaman Masjid Biru, menghidupkan kembali tradisi Ramadhan yang hampir terlupakan dari masa Khalifah Usmani.*