Berani Menikah

Manusia hanya diperintahkan berusaha menyiapkan cara terbaik, adapun akhir usaha, merupakan hak Allah Swt

Oleh: Sarah Zakiyah

Fenomena “marriage is scary” beberapa waktu lalu sempat jadi pembahasan viral di media sosial. “Marriage is scary” adalah kecemasan berlebihan ketika seseorang memikirkan tentang sebuah pernikahan.

Kekhawatiran dipicu berbagai sebab. Di antaranya pengalaman pribadi, cerita-cerita buruk dari orang sekitar, dan ketidakpastian masa depan pernikahan. 

Hal ini juga menjangkiti sebagian muslimah. Akibatnya, banyak muslimah yang memilih untuk hidup sendiri tanpa menikah alias melajang. 

Bagi mereka, hidup sendiri lebih kecil risiko yang akan dihadapi daripada hidup berumah tangga yang belum dapat diprediksi baik buruknya. 

Mereka pun tidak lagi merasa canggung menyandang status lajang di usia yang sudah tidak muda lagi, sangat berbeda dengan keadaan masa lalu, di mana seorang perempuan akan merasa malu dan risih jika belum bersuami di usia di atas 25 tahun. 

Lalu bagaimana seharusnya seorang muslimah menghadapi fenomena yang tidak baik bagi keberlangsungan hidup lahirnya generasi Islam ini? 

Sebenarnya yang dikhawatirkan banyak orang untuk memasuki gerbang pernikahan adalah seputar materi dunia dan kejadian-kejadian yang memang tidak dapat diprediksi manusia. 

Kekhawatiran tentang ekonomi, kemampuan untuk meredam emosi, perbedaan latar belakang dan pola kepengasuhan keluarga, kemampuan dalam menunaikan kewajiban sebagai suami/istri/ibu, perlakuan buruk orang-orang di sekitar suami, dan lain sebagainya. 

Pernikahan dalam Islam memiliki tujuan untuk keberlangsungan hidup manusia dalam mengemban tugas sebagai khalifah di bumi. Tujuan mulia ini tidak dapat diganti oleh mesin-mesin robot buatan manusia. 

Adapun kekhawatiran pada keadaan ekonomi pasca menikah, tidak dapat dijadikan alasan, karena sesungguhnya Allah Swt akan memberi jalan untuk mendapatkan rezeki jika manusia berusaha maksimal. 

Oleh karena itu, Allah Swt berfirman dalam QS. an-Nur: 32  yang artinya; 

“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Adapun kekhawatiran pada kemungkinan terjadinya kejadian negatif dalam rumah tangga, adalah kejadian di luar kemampuan manusia untuk memprediksinya. 

Allah Swt berfirman dalam QS. Lukman: 34 yang artinya;  “Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Scary marriage adalah perasaan yang alami, apalagi era digital telah mem-blow up pengalaman pribadi seseorang dalam pernikahan menjadi suatu yang viral. 

Walaupun demikian, muslimah tidak perlu cepat-cepat memutuskan hidup melajang. Sebab dengan persiapan ilmu, spiritual, bekal komunikasi, kepercayaan, dan kesiapan emosional, semua ketakutan akan pernikahan insyaAllah dapat diatasi. 

Alih-alih terfokus pada ketakutan, mari memandang pernikahan sebagai kesempatan untuk tumbuh, berbagi kebahagiaan, dan menciptakan perjalanan hidup bermakna bersama pasangan, dan menebarkan manfaat demi menunaikan kewajiban sebagai khalifah dan terwujudnya peradaban Islam. Waffaqanallaahu limaa yuhibbu wa yardha.*