Semangat para mualaf yang sangat luar biasa belajar Islam membuatnya bergairah mengajar meski dari dasar dan dari nol
Kebanyakan anak muda yang baru saja lulus kuliah, maka akan berburu karir di dunia kerja. Namun pemuda yang satu ini memilih jalan yang berbeda, yakni berdakwah dan jauh dari hingar bingar kota.
Lokasi dakwahnya pun jauh dari kampung halaman dan keluarganya. Lahir di Balikpapan (Kalimantan Timur), lalu berdakwah di ujung barat Nusantara, yakni di Nanggroe Aceh Darussalam.
Ustadz Badaruddin namanya. Usai lulus dari Sekolah Tinggi Teknologi Internasional Malang (STIKMA), Jawa Timur, ia langsung ditugaskan ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-Gala, Kabupaten Aceh Tenggara.
Pengalaman berdakwah pertama kali tentu saja tak mudah. Apalagi Badar sama sekali belum pernah berkunjung ke Aceh.

Ditambah lagi dia juga buta tentang budaya dan adat istiadat warga setempat. Beruntung penugasannya itu sifatnya hanya meneruskan tugas para da’i Hidayatullah terdahulu.
Ia hanya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Santri Mualaf
Wilayah Aceh selama ini dikenal dengan sebutan Serambi Makkah. Artinya, mayoritas warganya beragama Islam, lengkap dengan pemberlakuan hukum syariatnya.
Begitu pula informasi yang pernah didengar oleh Ustadz Badaruddin. Namun ketika tiba di lokasi, ternyata kondisinya berbeda.
Di Kecamatan Lawe Sigala-Gala, umat Islamnya minoritas. Lokasi ini memang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara yang didiami berbagai suku dan agama.
Meskipun demikian, Badar bersyukur sebab perkembangan umat Islam di daerah ini menggembirakan. Banyak orang yang berstatus mualaf, dan mereka menjadi lahan utama dakwahnya.
“Latar belakang pendidikan saya memang bukan dakwah, namun kami banyak belajar dari guru-guru dan mengambil spirit mereka ketika berdakwah,” kata pria kelahiran 5 Maret 1996 itu.
Di pesantren, Badar mendapat amanah sebagai pengasuh santri mualaf dan anak-anak yatim piatu. Tugasnya adalah membimbing, mendidik, dan membentuk mereka agar menjadi pribadi Muslim yang memiliki aqidah yang kokoh.
Badar juga mengajar tahsin bagi santri yang telah mahir membaca Al-Quran, serta mengajar Iqro’ para santri mualaf. Aktivitas yang satu ini dirasakan amat menantang.
Banyak santri yang awalnya buta huruf Al-Quran sama sekali. Terlebih lagi para santri mualaf, mereka perlu diajari dari nol.
Santri mualaf membutuhkan pendekatan yang berbeda, tidak sama dengan santri yang sudah beragama Islam sejak lahir.
Mereka butuh penguatan aqidah dan pengenalan agama dari dasar, seperti tata cara bersuci yang baik, gerakan shalat, dan doa-doa.
“Mengajari mereka membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Karena mereka tak terbiasa melafalkan bahasa Arab,” lanjutnya.
Badar terus mengajarinya tanpa lelah, pelan-pelan sampai mereka bisa faham. Dia merasa bahagia jika para santri itu mampu memahami yang diajarkannya.
“Salah satu yang memotivasi kami adalah semangat mereka sangat luar biasa. Kemudian ada rasa kepuasan tersendiri ketika santri-santri mualaf ini bisa melafalkan dengan baik setiap huruf yang kami ajarkan. Ketika ada salah satu santri bisa menghafalkan surah pendek, itu sangat membahagiakan,” ungkap suami dari Nur Athiyah tersebut.
Kini para santrinya itu telah mampu pula melaksanakan shalat dengan baik dan menghafalkan berbagai macam doa. Sungguh, Badar merasa terharu bahagia.
Petani dan Peternak
Kini Ustadz Badaruddin telah dikaruniai seorang anak. Jadi selain sibuk berdakwah membina mualaf dan anak-anak yatim, ia juga punya tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya.
Untuk keperluan ini, Badar berprofesi sebagai petani dan peternak kambing. “Kami harus membagi waktu agar semuanya bisa berjalan beriringan dengan baik,” ujarnya.
Alhamdulillah, beberapa waktu lalu Badar terpilih sebagai salah satu da’i yang mendapatkan bantuan kafalah operasional dakwah dari BMH dan YBM BRILiaN. Ibarat angin segar buatnya, sehingga ia bisa lebih fokus mengajar dan berdakwah. “Jazakallahu khairan, dukungan ini sangat membantu dakwah kami. Meskipun berkebun dan beternak tak bisa kami tinggalkan begitu saja, setidaknya kami lebih fokus berdakwah tanpa khawatir urusan dapur,” ungkapnya bersyukur.*/Siraj el-Manadhy