Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz, kami pasangan dengan dua orang anak usia 4 dan 1 tahun. Usia pernikahan kami menginjak 10 tahun. Usia saya 38 tahun, istri 35 tahun.
Akhir-akhir ini kami sedang menghadapi masalah. Istri sudah beberapa kali ini menolak diajak berhubungan suami istri.
Saya sudah berusaha menasehatinya dengan nasehat agama, tapi tetap saja dia kekeh. Saya bingung harus bagaimana? Mohon arahannya. Wassalamu’alaikum.
Fajar | Tangerang
Wa’alaikumussalam Warahamtullahi wabarakatuh
Bismillah alhamdulillah. Selamat Anda telah Allah anugerahkan 10 tahun berjalan pernikahan, lalu Allah sempunakan dua anak yang insyaa Allah shalih-shalihah. Semoga Anda berdua pandai bersyukur. Aamiin.
Bapak Fajar, setip peristiwa rumah tangga pasti ada hikmah dan pelajaran berharga.
Ingat, setiap perubahan itu, pasti ada sebab dan akibatnya. Sebagaimana kita tahu, suami maupun istri sejatinya saling membutuhkan pelayanan satu sama lain. Bahkan bisa dikatakan ada kewajiban dan hak di dalamnya.
Dan Anda sedang merasa tidak mendapatkannya. Bukankah demikian?
Nah, dalam kondisi normal, adalah tidak wajar jika istri Anda tidak membutuhkan nafkah batin dari Anda. Lalu mengapa akhir-akhir ini istri Anda menolak, bahkan dengan berbagai cara dilakukannya seperti yang Anda sampaikan?
Coba telaah kemungkinan positif. Pertama, faktor psikologis atau mental.
Bisa karena sedang ada trauma yang tidak diceritakannya kepada Anda, seperti pengalaman rasa sakit saat melahirkan yang tiba-tiba diingatnya, sehingga dia takut hamil lagi kalau melayani.
Atau sedang tidak nyaman hati dan pikirannya, sehingga susah mendapatkan kesiapannya melayani Anda, bahkan bisa saja takut mengecewakan Anda.
Atau juga kemungkinan positif kedua, faktor jasmani. Misalnya badan tidak fit, adanya penyakit yang dideritanya, yang tidak disampaikannya pada Anda.
Saya menyarankan, pertama, bersikaplah wajar, jangan panik dan tampillah menjadi suami tangguh. Istri Anda sedang membutuhkan pertolongan dan pendampingan Anda.
Tunjukkan perhatian dan kasih sayang terbaik Anda. Bantulah beberapa jenis pekerjaannya di rumah. Ringankan beban tenaga dan pikirannya.
Luangkan waktu untuk melakukan ‘healing’ romantis berdua tanpa anak-anak. Semoga satu ikhtiar ini dapat memulihkan kondisinya.
Dalam fikih munakahat biasanya sikap demikian sering disebut dengan istilah al-mu’asyarah bi al-ma’ruf (memperlakukan pasangan dengan baik).
Kedua, tetaplah terjaga dan sadar jangan egois. Nah, ego itu sangat tergantung diri Anda sebagai pemiliknya, mau Anda tinggikan atau kecilkan. Jangan jadi korban atas nama ego ini.
Andalah leader atau imam dalam menciptakan keharmonisan, dan yang dibutuhkan adalah kelapangan hati Anda sebagai suami. Anda berdua butuh kesabaran untuk saling bisa meredam dan menahan ego.
Ketiga, tidak mengumbar nafsu, tapi kendalikan. Hal ini juga sangat penting Anda pahami.
Sebagai suami shalih, jika istri Anda lelah, sakit, atau trauma, maka Anda pun harus memahaminya. Di sinilah berperannya sosok suami tangguh.
Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Naziat : 40-41)
Pesan saya, semua itu harus Anda lakukan dengan penuh keikhlasan tanpa beban karena Allah SWT. Semoga Anda berdua sehat wal afiah, sejahtera, sakinah mawaddah warahmah senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.*