Menghantar Hidayah untuk Meneguhkan Kemandirian


Tentang Program Mandiri Terdepan

Kita mengetahui bawha sekarang angka kemiskinan dan pengangguran diperkirakan bertambah setelah dengan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat memukul hati rakyat khususnya kaum dhuafa. Dampaknya, semua harga barang melonjak naik khususnya sembako. Daya beli masyarakat pun menjadi menurun drastis. Lalu bagaimana nasib para pedagang kecil dan menengah agar mampu bertahan menyambung usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya?

Fakta dilapangan yang seringkali kita temua bahwa ketika mereka mengajukan pembiayaan kepada pihak Bank maka akan terbentur dengan persyaratanpersyaratan ditambah agunan berupa sertifikat dan surat berharga lainnya. Belum lagi termasuk kriteria kelayakan pihak bank lainnya, walaupun mungkin bunganya hanya 1-2% perbulannya. Atau dengan jalan lain, mereka mengajukan pembiayaan kepada para rentenir yang memberikan kemudahan dalam persyaratan, akan tetapi secara tidak sadar para pedagang “dicekik” oleh bunga pinjaman antara 10 sld 30 % per bulan.

Beranjak dari permasalahan di atas, maka BMH hadir dengan program Mapan (Mandiri Terdepan) dengan tujuan untuk menopang dan sekaligus membantu mengentaskan kemiskinan dan pengangguran melalui dukungan pembiayaan bagi pelaku ekonomi lemah (kaum dhu’afa) serta membebaskan mereka dari jeratan rentenir serta melakukan pembinaan baik aspek moral dan manajerial .

Fakta menunjukkan bahwa hampir 90 persen pelaku usaha ekonomi berskala kecil adalah umat Islam. Namun ironisnya lagi dari keseluruhan usaha kecil yang ada, dikatakan masih belum memiliki institusiyang kuat, mapan, dan bebas dari interpensi dari ketika mereka mengajukan pembiayaan kepada pihak Bank maka akan terbentur dengan persyaratan-persyaratan ditambah agunan berupa sertifikat dan surat berharga lainnya. Belum lagi termasuk kriteria kelayakan pihak bank lainnya, walaupun mungkin bunganya hanya 1-2% perbulannya. Atau dengan jalan lain, mereka mengajukan pembiayaan kepada para rentenir yang memberikan kemudahan dalam persyaratan, akan tetapi secara tidak sadar para pedagang “dicekik” oleh bunga pinjaman antara 10 sld 30 % per bulan.

Beranjak dari permasalahan di atas, maka BMH hadir dengan program Mapan (Mandiri Terdepan) dengan tujuan untuk menopang dan sekaligus membantu mengentaskan kemiskinan dan pengangguran melalui dukungan pembiayaan bagi pelaku ekonomi lemah (kaum dhu’afa) serta membebaskan mereka dari jeratan rentenirserta melakukan pembinaan baik aspek moral dan manajerial Fakta menunjukkan bahwa hampir 90 persen pelaku usaha ekonomi berskala kecil adalah umat Islam.

Namun ironisnya lagi dari keseluruhan usaha kecil yang ada, dikatakan masih belum memiliki institusi yang kuat, mapan, dan bebas dari interpensi dari pihak manapun. Untuk itu dengan adanya Program Pengembangan Ekonomi MAPAN (Mandiri Terdepan) Melalui Pembiayaan Qardhul Hasan Berbasis Pembinaan Spiritual ini diharapkan mampu mengembangkan usaha mikro Umat. Sehingga mereka dapat menjadi pelaku ekonomi guna menekan kemiskinan serta mampu mengisi lapangan kerja di negeri sendiri.

MANFAAT PROGRAM
1. Penerapan sistem Islam dalam perekonomian
2. Memberdayakan mustahik
3. Membangun nilai-nilai kebersamaam dalam membangun ekonomi ummat
4. Menekan angka kemiskinan
5. Mengurangi jumlah dan dampak pengangguran

TUJUAN PROGRAM
1. Melaksanakan prinsip-prinsip ekonomi syariah
2. Menjadi solusi alternatif untuk membebaskan pedagang kecil dan ekonomi lemah dari jeratan rentenir
3. Membuka dan memperluas lapangan kerja untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran
4. Meningkatkan taraf hidup dan pendapatan para Pedagang kecil dan ekonomi lemah
5. Memasyarakatkan etika bisnis yang berdasarkan syariah
6. Menyantuni kaum dhuafa lainnya dari keuntungan yang didapat
7. Melakukan pembinaan kepada para Pedagang dan ekonomi lemah

TARGET
Penerima manfaat 200 KK para pedagang pasar per 5 (lima) bulan.

BENTUK PROGRAM
Bentuk Program yang didedikasikan kepada para pedagang pasar ini dirancang sesuai dengan Visi dan Misi yang diemban oleh LAZNAS BMH. Oleh karena itu bentuk program dibagi kedalam tiga bagian, yakni:
1) Pembiayaan Modal Kerja dengan Pola Qhardhul Hasan;
2) Pembinaan Spiritual;
3) Pembinaan Skill Usaha;
4) Pelatihan kewirausahaan;

1 Pembiayaan Modal Kerja
Dana pembiayaan yang disalurkan oleh BMT Al- Kautsar LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah kepada para pedagang kecil dan sektor informal lainnya dikelola secara syariah (tidak mengandung judi, menipu dan riba) dan di kontrol oleh dewan pengawas. Adapun pola yang pembiayaan yang dipraktekan adalah dana bergulir melalui mekanisme Pinjaman Kebajikan (AIQardhul Hasan), dimana dari dana qardhul hasan tersebut dapat menstimulus bangkitnya ekonomi dhuafa yang termarginalkan dan juga diharapkan kelak mereka yang tadinya mustahik dapat menjadi seorang muzaki.

Dana yang digulirkan untuk program Al – Qardhul Hasan dikhususkan untuk pedagang kelompok ataupun perorangan yang bergerak dalam sektor perdagangan dan jasa. Adapun pengklasifikasian berdasarkan jenis pembiayaannya adalah sebagai berikut :
1. Murni pemberdayaan
Adalah seorang dhuafa tersebut belum mempunyai usaha sebelumnya dan mau berjalan, karena memang usaha tersebut sangat prospektif.
2. Murni produktif
Adalah seorang dainya dia tidak dapat mengembangkan usahanya dan mendiversifikasi produknya.

2. Pembinaan Spiritua l
Pembinaan spiritual dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang Islam sebagai sistem dalam kehidupan. Disamping itu juga untuk memberikan motivasi betapa nikmat dan indahnya hidup dalam islam. Dengan demikian diharapkan merekamampu membangun kesepahaman dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar terutama dalam perekonomian.

3. Pembinaan Skill Usaha
Pembinaan usaha dilakukan dengan melakukan sharing, diskusi dan pelatihan mengenai manajemen dan strategi pengembangan usaha. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan sosialisasi konsep Islam untuk diaplikasikan sehari-hari dalam perekonomian ummat.

MONITORING DAN EVALUASI
Monitoring dan evaluasi akan dilaksanakan secara intensif dengan pembagian sebagai berikut:
• Evaluasi rutin yang dilaksanakan pihak Baitul Maal Hidayatullah dilaksanakan setiap 1 bulan sekali.
• M onitoring terhadap kinerja perkembangan usaha Dhuafa dilaksanakan setiap 2 minggu dalam satu bulan.
• M elakukan pembinaan kepada sahabat bina usaha setiap 2 bulan sekali. Adapun fungsi dari pembinaan ini adalah sebagai bentuk silaturahmi dan motivasi serta perluasan jaringan
• Baitul Maal Hidayatullah memberi laporan perkembangan Usaha Dhuafa Kepada Pihak mitra donatur setiap 3 (tiga) bulan sekali pada Minggu pertama dengan disertai dokumentasi berupa foto-foto aktivitas.

Disamping itu, proses monitoring juga dilakukan pada saat dilakukannya pembinaan baik pembinaan spiritual dan pembinaan usaha.

Time Line Mandiri Terdepan