Sore itu, matahari hampir beranjak ke peraduan. Suara riuh anak mengaji terdengar dari masjid Umar Al Faruq. Nada suaranya datar, dan kadang meninggi, membuat semua santri terpingkal-pingkal. Said Abu Bakar, pembina santri Pesantren Hidayatullah ini memang dikenal sebagai pembina yang akrab dan “gaul” dengan santri. Perawakannya kecil, logat Jakartanya kental, pintar membuat lelucon.
Sejak tahun 2003, ia menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, setelah hijrah dari Hidayatullah Pusat Gunung Tembak. Saat di Makassar, semangat belajar dan dakwah yang tinggi Ebi, demikian biasa disapa, langsung mendapat jadwal untuk khutbah Jum’at.
Tak hanya khutbah, mengajar pun tak luput dari kegiatannya. Padahal, ia sudah masuk kuliah di STIBA, sekarang Ma’had Aly. Dalam sepekan, ia membagi waktu antara mengajar dengan belajar. Jarak kampus STIBA dengan Pesaantren Hidayatullah sekitar 8 km. jarak itu, tidak dilalui dengan motor atau mobil, tapi sepeda kayuh merk BMX.
Hari terus berlalu, aktivitas mengajar Ebi tetap berjalan. Pun ketika ia harus memutuskan untuk pindah kuliah ke Ma’had AL Birr. Jarak yang ditempuh tidak lagi 8 km, tapi sudah 12 km. Sepeda BMX-nya masih tetap ia kayuh untuk mengajar di Hidayatullah. Keringat mengucur membasahi baju gamisnya. Selepas dhuhur ia baru menyelesaikan kuliahnya. Sekitar jam dua siang, Ebi mulai mengayuh sepedanya menyusuri jalan Sultan Alauddin, AAP. Pettarani, Panakukkang, kemudian belok ke Adiayaksa dan kembali menyusuri Urip Sumoharjo, kemudian baru masuk BTP. Kira-kira perjalanannya ditempuh selama satu jam setengah.
Tak sampai selesai di Ma’had Al Birr, Ebi menerima tawaran masuk pada jurusan Tafsir Hadits Khusus secara gratis. Ia pun pindah kuliah di kampus UIN Alauddin. Sama seperti Al Birr, di UIN ia juga tinggal di asrama.
Melihat perjuangan yang begitu besar, akhirnya Ebi diamanahi sebuah motor Cina. Motor itulah yang kemudian menjadi kendaraan untuk bolak-balik dari Alauddin ke BTP. Tahun 2008, ketika ada walimah jama’i Ebi pun menjadi salah satu peserta walaupun kuliahnya belum selesai. “Saya ingin menggenapkan dien, untuk membangun dakwah,” ungkapnya.
Tanpa terasa setahun Ebi membangun rumah tangganya bersama Latifah. Akhwat asal Bone yang menjadi pendamping hidupnya. Tak berselang lama Allah memberinya momongan. Seorang anak perempuan yang ia beri nama Zanjabila. Saat ini umurnya baru 3 bulan.
Tanpa ia sadari, enam bulan yang lalu Ebi merasakan kelainan dalam dirinya. Puncaknya ketika ia baru saja datang dari KKN (Kuliah Kerja Nyata). Tiba-tiba ia limbung, demam, badannya lemah, dan nafasnya sesak. Bahkan ia tidak bisa pulang ke rumahnya, tapi bermalam di asrama mahasiswa UIN.” Badan saya sakit semua, nafas terasa sesak, ” keluhnya. Akhirnya Ebi disarankan untuk periksa darah. Hasilnya ginjal Ebi sudah tidak berfungsi, bahkan sudah memasuki stadium akut. Dokter pun menyarankan untuk menjalani cuci darah.
Sontak ada perasaan kaget bercampur sedih, tetapi Ebi menganggap ini adalah takdir Allah. Dengan menguatkan tekad dan doa, Ebi mencoba berbagai alternatif untuk proses penyembuhan. Kakinya bengkak, nafasnya sesak. “Saya tidak bisa lagi tidur baring, hanya tidur duduk,” ujarnya lirih.
Akhirnya dokter pun menyarankan untuk menjalani cuci darah 3 kali sepekan. Kini Ebi masih tergolek di RS Wahidin Sudirohusodo untuk menjalani cuci darah. Bengkak di kakinya dan sesak nafasnya mulai berkurang. Ditemani istri tercintanya dan anak semata wayangnya yang masih berumur 3 bulan, Ebi menjalani hari-harinya di gedung Lontara I kamar 6, RS. Wahidin. Mohon doa dari seluruh kaum muslimin agar Ebi diberikan kesembuhan oleh Allah Azza Wa Jalla. (smd)
Bantuan dapat diberikan melalui BNI: 007 2912 763, BCA: 389 040 9767, BSM: 008 010 8896










