Tutik Mustikawati (43) berjalan tertatih-tatih, sambil disangga dua tongkat. Sesekali ia tampak meringis menahan rasa sakit. Tulang pahanya patah akibat ditabrak truk. Ia sudah menjalani operasi beberapa bulan lalu. Tulangnya yang patah telah disambung dengan plat. Namun belakangan diketahui salah satu tulangnya itu keluar dari sambungan. Inilah yang menyebabkan rasa sakit itu. “Rasanya nyeri sekali,” kata janda dua anak yang tinggal di Semarang ini.
Sejatinya, ia harus segera naik ke meja operasi lagi. Tapi apa daya, ia tak punya dana. Hutang untuk operasi pertama saja, belum berhasil ia lunasi.
Apalagi, ia agak mengalami trauma dengan perlakuan rumah sakit. Berhari-hari ia sempat ditelantarkan pihak rumah sakit. Itu terjadi saat pasca operasi. Ia diminta segera melunasi biaya operasi sebesar Rp 13 juta. Bagi Tutik, uang sebesar itu sungguh di luar jangkauannya. Ia harus mencari hutangan ke sana ke mari. Sepuluh hari kemudian, ia baru bisa membayar biaya itu. “Selama sepuluh hari itu saya tak diberi obat,” katanya.
Tutik seorang tutur kunjung untuk Pendidikan Layanan Khusus (PLK). Tugasnya adalah mengajar bagi anak-anak yang tidak tertampung di sekolah formal. Selama ini, ia mengajar anak-anak jalanan di dekat terminal Semarang dan di sebuah desa terpencil, Gelang Sewu Mijen. Untuk pekerjaan itu, ia menerima bayaran Rp 150 ribu per bulan dari sebuah LSM. Tentu saja, uang sebesar itu tak cukup untuk menghidupi dirinya dan dua anaknya yang kini sudah duduk di tingkat SMA. “Ya saya kadang menjahit baju-baju seragam,” katanya.
Sebagai seorang guru, ia pernah mengalami kebahagiaan yang tak terkira. Yaitu saat anak-anak jalanan itu menengoknya di rumah sakit. Ia tak sanggup menahan air matanya, saat anak itu datang. “Sekalipun anak jalanan, ternyata mereka punya perhatian besar kepada saya,” kata janda yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan ini.
Tak cuma datang membesuk, mereka juga kerap mengirim pesan singkat (SMS). “Mereka mendoakan agar saya cepat sembuh,” katanya.
Sebenarnya, Tutik sudah merasa rindu menemui anak-anak didiknya. Namun, apa boleh buat, keadaan dirinyalah yang tak memungkinkan melakukan itu. Untuk sementara, tugasnya mengajar digantikan rekannya. Ia hanya bisa berdiam diri di rumah kontrakan, ditemani seorang anak angkatnya yang diambil dari Aceh. “Ia korban dari Tsunami lalu,” katanya.
Kini, Tutik dihinggapi perasaan harap-harap cemas. Sebagai orang sakit tentu harapannya bisa segera sembuh. Hanya saja, untuk itu ia butuh uang sekitar Rp 13 juta sebagai biaya operasi tahap kedua. Sementara uang yang ada di tangannya baru Rp 4 juta, hasil sumbangan dari kawan-kawannya. Sisa kekurangannya, ia belum tahu di dapat dari mana. Inilah yang membuatnya cemas.
Kepada para pembaca yang berkenan meringankan beban Tutik, bisa mengirimkan donasinya ke rekening ke BCA 389 040 9767 (bam)
































