Tidak ada seorang anak pun didunia ini yang ingin mengecewakan orang tua terlebih jika amanah itu datang dari seorang ibu. Wasiat mulia untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an itulah yang sedang ditempuh remaja kelahiran Demak 14 April 1993 ini. Walau dari keluarga sederhana, anak yatim yang bernama Muhammad Syahid itu selalu optimis untuk menjalani hari-harinya, terlebih saat ini ia menjadi salah satu penerima Beasiswa Tahfidz Al-Qur’an dari BMH, dan menjadi anak asuh dari salah satu donatur BMH.
Yang paling melekat dalam ingat Syahid pada sang ibu adalah keinginannya agar anaknya ada yang menjadi penghafal “Sebelum Ibu meninggal beliau berpesan agar ada diantara anak-anaknya menjadi seorang penghafal”. Kata juara 1 lomba MTQ bidang hafalan Al-Qur’an 10 Juz tahun 2009, saat di temui usai setoran hafalan.
Ibu Syahid yang bernama Suhartini wafat saat ia masih duduk di bangku kelas 6 MI Nurul Hikmah Sanggata, kesedihan tentu tidak dapat dipungkiri, diusia yang masih dini ia harus kehilangan kasih sayang seorang ibu. Oleh ayahnya, Muhammad Kasmin, anak ke 5 dari lima bersaudara tersebut selepas menempuh pendidikan dasar dikirim ke Pesantren Hidayatullah Balikpapan, dipesantren yang banyak menampung anak-anak yatim-piatu dan terlantar tersebut Syahid didaftarkan untuk menjadi seorang penghafal di Ma’had Ahlul Suffah milik Pesantren Hidayatullah.
Lewat kesungguhannya saat ini Syahid sudah menghafal 23 Juz, selain menghafal ia juga mengkuti pendidikan formal pada kelas khusus, dan saat ini ia duduk di kelas 1 Madrasah Aliyah. Apa tidak sulit menjadi seorang penghafal Al-Qur’an sekaligus menempuh pendidikan formal. “ Kalau sulit tidak. Namum kadang ada juga jenuhnya dan rasa malas, namun selalu saja ada motivasi baik dari ustads atau teman-teman, terlebih kalau menginggat pesan ibu, saya jadi bangkit semangatnya agar tidak mengecewakan beliau, mudah-mudahan Allah memberi Syafaat kepada Ibu, dan saya bisa menjaga amanahnya”.*** (Izzat)
































