Ada yang lain pada acara Rapat Kerja Nasional BMH ke-VI pada Sabtu (12/12/2009). Ruang pertemuan tampak penuh sesak. Peserta dan undangan antusias mengikuti acara tersebut. Tak hanya pembukaan rakernas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) ke VI, tapi ada juga dirangkaian dengan acara Pelepasan Kuliah da'i Mandiri (KDM) angkatan ke VII.
Merupakan program kuliah da'i satu semester, yang merupakan pembekalan untuk para da'i muda Hidayatullah yang akan diturunkan untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil. Alunan ikrar syahadat serempak menggema dan memecah keheningan ruangan. Dua puluh tiga (23) da'i alumni Kuliah da'i mandiri siap untuk dilepas ke tempat tugas. Mereka berikrar siap mengemban tugas dakwah dari Hidayatullah. Nampak dari wajah mereka semangat dakwah yang menggelora. Suara lantang Ketua Pos da'i Hidayatullah, Ust. Akib Junaid menuntun ikrar para da'i. Meneguhkan keyakinan bahwa Allah bersama mereka.
Idham Khalid bin Bahruddin, salah seorang alumni KDM yang dengan bersemangat akan memulai tugas dakwahnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tak ada kekhawatiran terpancar dari wajahnya. “Insya Allah saya siap bertugas dimana pun Hidayatullah tempatkan, “ujarnya singkat dengan penuh keyakinan.
Begitu juga dengan Agung Heri Prasetyo, pemuda kelahiran Jawa Timur ini, tak gentar mendapat tugas di Serui, Papua. Membayangkan Serui, Papua, yang terlintas adalah malaria, medan yang ganas, umat Islam yang minoritas. Tapi itu tak menyurutkan langkahnya. Ia yakin kalau Allah akan selalu menolong siapa yang menolong agama Allah. “Apalagi kita akan berdakwah,” tegasnya
Idham dan Agung adalah bagian dari 23 da'i jebolan Kuliah da'i Mandiri. Kuliah da'i mandiri adalah program pendidikan dan pelatihan da'i selama enam bulan. Program hasil kerjasama antara BMH dengan Pos da'i Hidayatullah ini telah menamatkan tujuh (7) angkatan. Untuk angkatan ke-6 dan ke-7, program KDM dipusatkan di Makassar. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjangkau wilayah timur Indonesia.
Ustadz Sholeh Utsman, Penanggung Jawab Kuliah da'i Mandiri Makassar mengatakan bahwa selama 6 (enam) bulan dibekali manhaj, ilmu-ilmu syari dan fiqh dakwah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tak hanya itu, mereka dibekali dengan bahasa Arab dan Grand MBA (metode mengajar Al Qur'an). “Kurikulum KDM Makassar kita gabungkan antara kurikulum Ma'had (pesantren) Al-Birr dengan kurikulum KDM pusat,” ujar Sholeh.
Tak hanya ilmu syar'i yang diajarkan, tapi pembentukan mental untuk berdakwah menjadi salah penekanan dalam program Kuliah da'i Mandiri tersebut. Tiap hari mereka bergiliran latihan khutbah jum'at dan ceramah.
Menurut Tasrif Amin, ketua Bidang Dakwah Pusat Hidayatullah mengatakan bahwa da'i jebolan KDM yang sudah disebar ke seluruh Indonesia sebanyak 250 da'i. “Rata-rata tiap angkatan kita bisa menamatkan dan menugaskan 25 da'i, jadi sampai angkatan ke tujuh ini, kita telah mengirim lebih dari 250 da'i ke seluruh pelosok Indonesia,”ujar Tasrif Amin. Tersebarnya da'i Hidayatullah ke seluruh pelosok Indonesia maka semakin banyak masyarakat yang akan tercerahkan. Perubahan bangsa ini tidak bisa terlepas dari peran da'i.
DR. Abdul Mannan, MM. Ketua Pusat Hidayatullah mengatakan dalam sambutan pelepasan da'i bahwa da'i adalah pekerjaan yang mulia. Jadi, jangan berkecil hati bahwa Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya. “Dimanapun ditugaskan, ini adalah tugas mulia,” ujarnya.
KDM adalah program prioritas BMH sebagai lembaga zakat berbasis dakwah. Program yang dikemas untuk meningkatkan kualitas da'i dan membentuk mental da'i untuk ditempatkan di seluruh Indonesia. Tidak hanya program mencetak da'i, BMH pun memberikan tunjangan bagi da'i pelosok, beasiswa anak da'i dan beasiswa bagi da'i. Dengan eksisnya dakwah, Indonesia kian berkah. amin (sarmadani)










