dikesempatan ini, saya ingin mengajak sejenak sahabat untuk mengkalkulasi berapa biaya yang harus di keluarkan oleh sebuah pesta demokrasi. Dilansir dalam sebuah berita, biaya Pesta Demokrasi begitu mencengangkan. jika kita sandingkan dengan jumlah kebutuhan rakyat miskin dan super miskin di republik ini, pasti akan membuat kita mengelus dada dan mengeleng kepala. betapa tidak, angka 80 Triliun hanya dalam hitungan bulan habis untuk membiayai sebuah pesta, yang katanya akan membawa negeri ini keluar dari lilitan kemiskinan, kebodohan dan setumpuk masalah yang masih mengangkangi negeri ini.
Asa memang harus terus diasah agar gelora semangat tidak pudar dalam mengentas masalah kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. namun kita juga harus peka dan sadar bahwa di tengah samudra kemiskinan dan kebodohan di negeri ini. kita masih sempat melihat dengan mata kepala kita secra sadar dengan sengaja atas nama demokrasi pemerintah mengelontorkan dana 80 Triliun untuk sebuah pesta pemilu.
Pesta yang di tengarai ikut melakukan pembodohan terhadap rakyat, dengan hanya menyuguhkan janji lipstick dan goyangan yang menyerempet erotis di setiap kampanye terbuka. Sahabat, coba bandingkan dengan potensi zakat yang 19 Triliun/tahun dengan 80 Triliun ongkos “Pemilu”, sebuah
angka yang sangat jomplang, namun saya bisa bertaruh, insya Allah dengan dana yang baru bisa di himpun oleh lembaga zakat sebesar 1Triliun dari potensi yang ada, bisa dipastikan dapat mendorong dan bahkan meretas ribuan masyarakat dhuafa dari belitan kemiskinanan. dan itu bisa dicek kesahihannya di OPZ (Organisasi Pengelola Zakat) atau di media yang ada. namun sayang berita tentang perjuangan dan pergelutan OPZ dalam mengentaskan kemiskinan kalah dengan berita perselingkuhan elit politik dan pejabat public, karena lebih menarik di ekspos dibanding keluarnya keluarga miskin dari jerat kemiskinan, yah itulah realita kelam negeri ini.
Kembali ke soal Pemilu, pertanyaan sederhana yang ingin saya sampaikan bahwa, akankah semua proses ini mengantarkan negeri tercinta ke kondisi yang lebih baik dan semangkin baik? Jawaban tentu akan beragam, bergantung pada perspektif dan sudut pandang setiap kepala. Namun bagi penganut prinsip optimisme dan mengedepankan sudut pandang positif, tentu akan berharap bahwa apa yang telah di korbankan oleh penyelenggaraan Negara muapun masyarakat umum untuk menyelesaikan pagelaran pemilu kali ini bisa memberikan warna dan suasana yang lebih kondusif dan lebih baik.
Harapan para pegiat dan pemerhati zakat serta penerima manfaat zakat tentu berharap setelah proses pemilu ini selesai, para aleg dan Presiden terpilih adalah orang – orang yang benar – benar punya kemauan dan kemampuan yang kuat untuk menghadirkan sebuah perubahan yang singnifikan. Kita berharap UU PZ nomor 38 tahun 1999 yang pernah di terbitkan untuk bisa di sempurnakan lagi agar dampak yang diharapkan lebih berbunyi dan memiliki greget bagi pengelolaan zakat yang lebih baik dan bermartabat, dan semua itu ada di palu anggota dewan terpilih. semoga saja kita bisa membuka hati, dan pikiran untuk mengabdi.
Bagi Presiden dan Wakil Presiden terpilih, kami meninggalkan pesan untuk Anda agar terus berupaya melahirkan butir – butik kebijakan yang lebih pro pada upaya meretas dan mengeluarkan masyarakat dari kungkungan kemiskinanan, dan salah satu butir yang kami inginkan adalah menjadikan instrumen zakat dan kedermawanan sebagai hal yang perlu untuk ditata dan dikelola dalam peran – peran yang lebih sempurna terkait dengan regulator dan operator serta hal lainnya agar lebih berdaya, dan insya Allah harapan itu masih ada!!!! .










