DESKRIPSI PROGRAM KURBAN
Kemiskinan adalah sebuah realitas kehidupan. Upaya dan strategi telah dikerahkan pemerintah maupun lembaga swasta yang peduli untuk mengantisipasi hingga mengurangi angka kemiskinan. Data menyebutkan kantong kemiskinan lebih mendominasi di daerah pedesaan dan pelosok ibu pertiwi sebesar 64,3% dibandingkan di daerah perkotaan. Artinya langkah dan aktivitas pemberdayaan dan kemandirian lebih diprioritaskan di daerah-daerah pedesaan.
Jelang kurban tahun ini, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mencoba memberikan alternatif dengan lebih fokus penyaluran di desa tertinggal. Diharapkan momen berkah itu adalah salah satu upaya melakukan proses kemandirian dan peningkatan gizi agar semakin meningkat. Tak salah, tahun ini BMH mengangkat tema Kurban di Kota, Manfaat di Desa. Tema yang kental dengan semangat kebersamaan dan sarat manfaat diharapkan memberikan spirit dan motivasi untuk kaum dhuafa mampu bangkit dan mandiri.
Melalui 120 unit salur, jaringan da’i dan guru, 200 pesantren dan peternak lokal yang tersebar di pelosok mampu menjadi pendukung optimalisasi penyelenggaran aktivitas kurban dan pemberdayaan. Aktifitas da’i dan guru yang berada di pelosok tentunya akan semakin memberikan perhatian yang lebih besar melalui distribusi kurban kepada umat muslim di wilayah pelosok. Rata-rata mitra da’i di pedesaan melakukan pembinaan kepada masyarakat miskin dan komunitas muallaf. Manfaat lain juga membantu pesantren yang selama ini dikelola secara swadaya dapat juga merasakan manfaat kurban melaui pengelolaan ternak serta peternak lokal di wilayah pedesaan bisa lebih berdaya.
Harapan besar akan selalu hadir, ditengah beban berat yang dihadapi bangsa saat ini, namun kita harus tetap menjadi bagian dalam mensukseskan kemandirian dan menjadi bagian dari syiar Islam di penjuru negeri. Semua tidak akan terwujud dan tidak ada artinya tanpa ada sinergi serta peran serta Bapak/Ibu para pekurban yang budiman. Semoga kurban yang ditunaikan memiliki manfaat ganda serta membantu syiar Islam di wilayah pelosok desa. Wallahu a’lam bishawab
TUJUAN
- Meningkatkan kepeduliaan dan perhatian kaum muslimin khususnya bagi yang mampu terhadap kaum miskin
- Optimalisasi dengan pemerataan distribusi kurban dan pemberdayaan masyarakat desa
- Pemberdayaan bagi peternak lokal di wilayah kurban di amanahkan
- Terjalinnya komunikasi, kehangatan dan meminimalir jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dan membangun semangat kebersamaan
- Mengokohkan syiar Islam melalui ibadah kurban
KEUNGGULAN PROGRAM
- Lebih tepat sasaran karena diprioritaskan ke desa rawan pangan, miskin dan tertinggal
- Bermitra dengan da’i, pesantren dan peternak lokal pedesaan di wilayah pendistribusian kurban
- Pekurban dapat terjun ke daerah lokasi tempat penyaluran kurban
- Mendapatkan fasilitas laporan realisasi melalui short message service (SMS) dan media progress report lainnya
- Liputan kurban dan sertifikat kurban
KRITERIA WILAYAH DISTRIBUSI
- Daerah miskin dan kawasan pinggiran
- Desa tertinggal
- Daerah pasca bencana
- Daerah pembinaan muallaf
- Daerah transmigrasi
Lokasi daerah yang menjadi sasaran merupakan daerah yang prioritas yang berada di wilayah pedesaan. Sasaran pendistribusian di 813 pedesaan yang masyarakatnya berada di bawah garis kemiskinan. Wilayah proritas lain juga disalurkan melalui da’i pelosok yang secara rutin telah memberikan aktifitas pembinaan, melalui pesantren dengan model pemberdayaan ternak serta wilayah pembinaan pesantren mualaf di 21 titik di Indonesia. Berikut sebaran hewan kurban antara lain Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat), Pulau Lembe, Cikupang, Bitung (Sulawesi Utara), karaya/Rumah Kusta, Kel. Biring, Kel. Antang, Kel. Pampang (Sulawesi Selatan), Solo, Pekalongan, Semarang (Jateng), Bendungan SP I, Kokoda Rufei, HBM Kampung Pisang, Kampung Salak Rufei Maksubun SP III (Sorong, Papua), Bogor, Cirebon, Bandung, Bekasi (Jabar), 100 Desa rawan pangan (Surabaya, Jatim), Kutai Barat(Kaltim), Lampung, Jati Blimbing (Bojonegoro), Desa Ranupani (Lumajang), Desa Larangan Slampar ( Pamekasan), Dll.










